Minggu, 30 Agustus 2009

JATUH BANGUN PERDAGANGAN EMAS HIJAU DI SELAYAR ANTARA TAHUN 1820-1950

Oleh : Christiaan G. Heersink

Alih bahasa : Andi Amrang amir

Di masa kolonial, banyak orang Eropa mengangap bahwa kelapa adalah tanaman para pemalas1. Namun untuk orang Indonesia sendiri, tanaman ini sangat menguntungkan, apalagi ketika industri-industri besar di Eropa pada awal tahun 1880-an menggunakan kopra (biji kering dari kelapa) sebagai bahan dasar produksi sabun dan margarin. Saat itu diperkirakan sepertiga kebutuhan kopra dunia dipasok dari Hindia Belanda. Kopra menjadi komoditas ekonomi yang penting di Indonesia timur. Pada tahun 1939, kopra memiliki prosentase sebesar 80 persen untuk komoditas ekspor wilayah Indonesia timur dan 60 persen dari total komoditas ekspor2.

Di beberapa wilayah di Indonesia, kopra dijuluki “The green gold” (emas hijau) 3. Orang-orang Eropa juga terlibat dalam pengolahan kelapa tetapi dalam jumlah terbatas. Pada paruh pertama abad 19, perdagangan kopra didominasi penduduk setempat dengan kisaran 94 persen, sementara pedagang cina menjadi pedagang perantara mendominasi perdagangan kopra level menengah.

Pentingnya kopra sering dicatat dalam literatur sejarah ekonomi Indonesia. Dimana analisis terhadap perluasan perdagangan kopra dikatakan kurang bisa terlalu dipahami, karena analisis yang ada saat ini masih seputar analisis level makro, yang memberikan informasi kuatitatif tetapi sangat sedikit menyebutkan dampaknya pada perdagangan lokal. Lagipula tidak jelas bagaimana perdagangan kelapa diorganisir dan bagaimana peran orang Indonesia, Cina dan Belanda yang mencoba melakukan penetrasi atau mengontrol perdagangan kelapa selama masa suksesi. Untuk memahami ini, tentu kita membutuhkan jelajah analisis level mikro.

Artikel ini akan mengulas perdagangan kelapa di Selayar, sebuah pulau di ujung selatan daerah Sulawesi selatan dimana perekomomiannya pernah didominasi oleh perdagangan kelapa selama dua abad. Pilihan dijatuhkan pada Selayar dengan dua pertimbangan:

Pertama, pulau tersebut telah memimpin perdagangan ekspor kelapa sebelum perdagangan kopra sehingga bisa dikatakan bahwa, pertumbuhan kelapa tidak sekedar orientasi substansi atau prioritas statis ketika berintegrasi dengan pasar dunia.

Kedua, pulau ini merupakan sedikit dari wilayah di Indonesia timur yang disurvey lebih intensif oleh pemerintah lokal selama goncangan Perang Dunia II dan pergerakan nasional Indonesia.

Artikel ini menggambarkan bahwa perluasan perdagangan kelapa mempunyai sebuah pengaruh yang penting bagi masyarakat Selayar, misalnya ketika kepemilikan kebun kelapa menjadi indikator utama mobilitas social. Integrasi perdagangan kelapa terhadap pasar dunia pada awal abad 20 menyebabkan hilangnya dominasi pedagang lokal walaupun mereka pun tidak lantas ter-subordinasi secara total. Sementara itu, orang-orang Eropa mengalami kesulitan untuk melakukan penetrasi terhadap perdagangan kelapa dan hanya berhasil sedikit sampai pasca 1930.

Artikel ini dimulai dengan pendahuluan singkat terhadap struktur sosial-ekonomi di Selayar. Setelah itu, perkembangan perdagangan kelapa di Selayar akan dianalisis dalam tiga bagian : Periode Sebelum Kopra ( 1820-1880), Tumbuhnya monopoli Cina ( 1880-1930) dan Periode depresi setelah kemunculan Coprafound( 1930-1950).

Penelitian ini sebagian besar mengambil referensi dari gambaran material Algemeen Rijksarchief Den Haag ( ARA), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta dan Makassar serta sejumlah wawancara di Makassar dan perjalanan ke Selayar dari bulan November 1990 dan November 1991. Kebanyakan wawancara tersebut berlangsung dalam bahsa Indonesia kecuali dengan beberapa orang selayar, dimana kami dibantu oleh Bapak Guru Arifin dan Andi Balasa sebagai penerjemah bahasa setempat.

Gambaran umum Tentang Selayar

Pulau selayar memiliki panjang 80 km dan lebar maksimal 13 km. Pulau ini terdiri dari pegunungan dan tanah gersang yang tidak bisa dipercaya akan dapat menumbuhkan tanaman, khususnya di bagian utara. Mayoritas penduduk beragama Islam. Di masa kolonial, makanan utama mereka adalah jagung yang ditanam di ladang (lahan tanpa irigasi) yang banyak terdapat di daerah-daerah perbukitan. Sementara itu beras didatangkan dari daratan Sulawesi dan sebagian kecil di daerah Sunda. Pada dasarnya, lahan yang paling banyak ditanami kelapa adalah daerah pesisir barat tetapi di pulau ini, di pucuk-pucuk bukit pun, tanaman kelapa tidak susah ditemukan.

Selayar memiliki jaringan ekonomi yang luas selama berabad-abad karena letaknya yang strategis dalam jalur perdagangan antara Makassar dan pulau-pulau di Indonesia timur misalnya di Maluku yang menjadi pusat rempah-rempah. Integrasi terhadap jaringan perdagangan ini kemudian menyebarkan pula komoditas Selayar yang lain seperti tekstil ( setelah tahun 1600) dan teripang ( sejak 1750-an). Pulau tersebut beralih dari kekuasaan Gowa ke Belanda setelah kekalahan Gowa dari kekuatan gabungan Laksamana Speelman dan Pangeran Bugis, Arung Palakkan tahun 1667.

Selayar merupakan daerah penyebaran orang-orang Bugis-Makassar dari Sulawesi Selatan dimana mayoritas penduduknya berbicara dalam bahasa dialek Makassar. Masyarakatnya memiliki ciri khas seperti di daerah-daerah tetangganya yang berada di antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan, yang menyebabkan terjadinya mobilitas sosial, dan di sisi lain, terjadi stabilitas struktur sosial6. Kekuatan politis tertinggi yang terpecah menjadi sekitar 10 distrik distabilkan oleh sederet intervensi Belanda, khususnya setelah awal abad 19.

Setiap regency dipimpin oleh seorang yang bergelar Opu, yang dipilih di antara Anak pattola (bangsawan tertinggi). Anak pattola ini dibentuk bersama-sama dengan anakkaraeng (bangsawan yang lebih rendah). Bangsawan Selayar terpisah jelas dengan strata yang lebih rendah, yakni orang kebanyakan dan budak8.

Status ini dilegitimasi oleh klaim kepemilikan kualitas luar biasa dari sumage (….), sebuah istilah yang diasosiasikan dengan potensi, isi jiwa( stuff) serta jiwa masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi selatan, yang hanya bisa diwariskan lewat keturunan dan diperkuat oleh hukum adat9. Status formal ini telah diseimbangkan dengan kekuatan aktual yang fleksibel dan terstruktur dalam hubungan perlindungan-pertemanan (patron-client) yang berdasar pada pola pengontrolan orang-orang yang berkuasa.

Kebangsawanan Orang Selayar diwujudkan dalam pekerjaan dari bawahan dalam masyarakat Selayar dan sebagai atasan, wajib melindungi bawahan dari kekerasan atau gangguan musuh. Aturan ini berlaku secara umum10. Bawahan selanjutnya membalas segala jasa segala bentuk kebaikan pelindungnya dalam bentuk imbalan ekonomi serta membantu atasannya untuk mewujudkan pengakuan politik. Atasan membutuhkan ini karena kekuatan setiap individu dan legitimasi posisi sosialnya akan segera diuji oleh para pesaingnya. Kegagalan dan keberhasilan melewati “ujian” tersebut akan menyebabkan ekspansi dan kontraksi terhadap para pelanggan, serta kebangkitan dan kejatuhan sebuah keluarga11.

Hubungan system dyadic (…) ini juga membentuk basis ekonomi. Yang terpilih akan menggunakan para budak dan debt bondsmen (..) untuk bekerja di ladangnya, di industri tekstilnya atau di perahunya. Semetara itu, di bidang pertanian, para pekerja akan mengambil bagian dari milik tuannya sebagai balas jasa dari tuannya. Penghapusan perbudakan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1860 di Sulawesi selatan tidak mengakibatkan “perpecahan ekonomi” karena para pekerja pada umumnya mendapatkan “perlindunagn” dari tuannya sehingga perbudakan masih saja berlangsung secara illegal sampai tahun 1920.

Keterlibatan dan perhatian orang-orang Eropa terhadap pengolahan kelapa sangat minim selama periode kolonial. Pada tahun 1849, L.M. F Plate, seorang utusan dari Nederlandsche Handel- Maatshappij(NHM) yaitu sebuah perusahaan Dagang nasional Belanda yang bertempat di Makassar menganggap bahwa kelapa merupakan salah satu komoditas yang sangat menguntungkan. Namun kebanyakan usaha orang Eropa yang mencoba mengolah kelapa mengalami kegagalan karena skema rasionalisasi yang mahal. Di samping itu mereka tidak memiliki akses terhadap para pekerja yang telah “dikontrak” oleh pengusaha setempat setidak-tidaknya 10 tahun sebelum panen pertama. Ini merupakan waktu yang terlalu lama untuk meraup keuntungan13.

Pengolahan kelapa yang dilakukan penduduk setempat sama halnya dengan produk ladang lainnya yang tidak terlalu memerlukan energi yang banyak. Setelah tahap penanaman, mereka punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas lain. Inilah yang menyebabkan orang-orang Eropa menyebut kelapa sebagai tanaman orang malas. Menurut mereka, keuntungan dari perdagangan kelapa tergantung dari harga pasar dan bukan dari optimalisasi pengolahan14.

Periode Sebelum kopra (1820-1880)

Pada paruh pertama abad 19, perdagangan selayar terpusat di pesisir barat, dimana dapat ditemukan sekitar 5 atau 6 pusat perdagangan ( Dari utara ke selatan : Batangmata, Barugayya, Parak, Appabatu, Benteng, Padang, Tongke-Tongke- catatan penej). Pusat-pusat perdagangan ini memiliki komoditas dan jaringan dagang yang sama. Pengaruh Belanda berpusat di Benteng, sebuah daerah yang berada di tengah pulau. Di daerah ini, dibangun post pada awal abad 19, serta ditempatkan seorang Controleur dan Gezaghebber yang mengatur para Opu. Opu ini mengontrol kepala pemerintahan di bawahnya. Mulai saat itu ditetapkan aturan pembayaran iuran untuk ekspor dan impor yang terbukti lemah karena di luar Benteng, terutama di daerah-daerah bagian utara terjadi banyak penyelundupan. Sementara itu di pesisir timur, karena pantainya curam dan sangat sedikit tempat yang bisa dipakai membuang sauh, maka tidak cocok untuk armada dagang berskala besar15.

Pada abad 19, pemerintah Belanda merencanakan penarikan pajak perbandingan buah tiap pohon (fruit-bearing coconut tree) namun rencana ini baru terlaksana pada sekitar tahun 1900. Kebijakan ini dianggap sangat kompleks dan mahal sebab sistem perpajakan yang rill dan adil membutuhkan pegawai yang akan menakar jumlah pohon, mencatat siapa pemiliknya, mengontrol kematangan pohon dan sebagainya16.

Aktivitas Perdagangan penduduk setempat dibiayai dan diorganisir oleh penduduk setempat oleh sebuah sistem yang disebut modala (working capital)17. Biasanya pemilik kapal menyupali berbagai komoditas ke nahkoda (Kapten) Perahu yang memiliki beberapa anak buah kapal (sawi). Setelah mereka kembali dari pelayaran niaga mereka, maka modal dan sebagian keuntungan diserahkan kembali kepada pemilik kapal.

Ada dua jenis komoditas yang diperdagangkan waktu itu yakni : komoditas standar dan komoditas mewah. Komoditas standar adalah komoditas ekspor yang terdiri dari kain, kelapa dan minyak kelapa sementara komoditas mewah adalah barang-barang impor seperti beras dan tembakau. Ruang barang perahu biasanya diisi dengan berbagai komoditas yang beredar di pasar-pasar Selayar. Biasanya, komoditas standar bisa didapatkan dengan mudah di pasar-pasar setempat yang memiliki jaringan pasar dengan pusat perdagangan yang ada di daratan Sulawesi Selatan18. Sementara itu, komoditas mewah membutuhkan ruang tambahan di dalam kapal dan biasanya dilakukan oleh para pedagang antar pulau untuk jarak jauh.

Untuk Perdagangan jarak jauh sendiri, para pedagang memiliki pos sambungan yang bebas ( Far-flung network sattelite) dimana pedagang Selayar terhubung dengan pos perdagangan di Kampung Galange Singapura, serta di tempat-tempat lain seperti di Kalimantan, Jawa, Ambon dan Flores. Berbagai komoditas mewah seperti emas dan bahan-bahan perak diperdagangkan di luar pasar umum melalui jaringan personal. Dengan demikian, jaringan dagang komoditas mewah ini lebih bisa dikuasai ketimbang komoditas standar. Mereka juga bergabung dalam jaringan dagang yang membawa hasil hutan dan hasil laut dari Makassar ke Singapura dan membawa pulang komoditas lain seperti senjata, opium dan tekstil India dari Singapura dalam jumlah kecil.

Pengolahan kelapa menjadi penting pada abad 19. Pada periode tersebut, kelapa menjadi salah satu komoditas dagang yang penting. Bagi yang tidak memiliki kelapa, mereka turut memperdagangkan kain, beras dan jagung walaupun biasanya mereka tetap memiliki sejumlah pohon kelapa dalam jumlah kecil. Pada pertengahan abad 19, seorang pelancong jerman, Zollinger mencatat bahwa, perdagangan kelapa dan minyak hampir menjadi komoditas utama bagi kesejahteraan penduduk yang ia temui. “Kelapa bagi mereka sama pentingnya dengan padi di tempat lain”, katanya.

Pada pertengahan abad 19, perdagangan kelapa, minyak kelapa memainkan peran pada perdagangan tingkat lokal, antar pulau dan tingkat regional utamanya di pulau-pulau kecil21. Selayar mengekspor kelapa dan minyak kelapa ke daerah-daerah lain seperti ke daratan Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumbawa dan sebagainya. Dalam laporan Celebes and dependencies (South Sulawesi) tahun 1860 dinyatakan secara eksplisit bahwa, telah terjadi kekurangan stok kelapa di daerah-daerah tersebut kecuali Selayar.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian memicu penyebaran pohon kelapa ke pulau-pulau lain dengan membawa bibit kelapa dari selayar. Paruh kedua abad 19 ditandai dengan bertambahnya perkebunan kelapa di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk di Selayar sendiri. Tetapi selayar yang memimpin perdagangan kelapa menjadi terancam karena pulaunya yang kecil, sementara di kepulauan sebelah timur, potensi untuk ekspansi lebih besar.

Dengan bertambahnya jumlah perkebunan kelapa di selayar, maka proses akumulasi perkebunan kelapa oleh elit lokal pun dimulai23. Akumulasi (penimbunan) ini melibatkan kekerasan dan penggadaian yang berujung pada persengketaan kepemilikan tetapi dapat dicegah melalui perkawinan dan penerbitan land form division dalam bentuk warisan.

Selama abad 19, perekonomian Selayar mengalami proses moneterisasi, terutama setelah tahun 1863 ketika pajak suara (poll tax) diberlakukan. Biasanya kalangan bawah menggadaikan kebun kelapanya kepada penguasa untuk mendapatkan uang pembayaran pajak, dan kadang dipakai naik haji. Konstribusi terhadap proses akumulasi banyak terjadi di Selayar bagian utara. Orang-orang kehilangan lahan pertaniannya jika tidak bisa mengembalikan pinjaman, tetapi nampaknya kekuatan para elit terhambat oleh klaim kepemilikan asli.

Para Opu diberikan sebuah peranan kunci secara tidak langsung oleh pemerintah kolonial pada abad 19 untuk mengatur Selayar. Mereka sekaligus menjadi pegawai pemerintah kolonial. Di Makassar, pusat pemerintahan regional Belanda, bahkan telah mengizinkan pengangkatan dan pemberhentian mereka. Beberapa opu juga menjadi pecandu opium dan mereka makin tidak mampu mempertahankan posisi mereka dalam “contest state’26.

Pengawasan ketat dari Controleur Belanda kemudian menghalang-halangi praktek tradisional untuk mendapatkan kekuasaan, yang secara langsung menguji kekuatan lawan? Ketimpangan kekuasaan para opu ini meyebabkan meningkatnya ketegangan secara terus-menerus antara opu dan lawan tanding (rival) mereka yang member kesempatan pada orang-orang biasa untuk mendapatkan kekuasaan27.

Pada paruh kedua abad 19, akses untuk menguasai perdagangan jarak jauh meningkat dan dimonopoli oleh dua kelompok: kelompok haji dari Batangmata dan kelompok Cina dari Padang, sebuah perkampungan baru di tengah selayar. Setelah terjadi sederet konflik dengan opu mereka, Daeng Gassing dari Batangmata yang menganggap diri sebagai opu dan dilindungi oleh Belanda ternyata bisa memiliki kekuatan yang besar dalam kepemilikan sebagian besar dari perkebunan kelapa dan perdagangan jarak jauh. Bangsawan Batangmata, utamanya yang memiliki gelar haji28 memperoleh penguatan status diukur dari luasnya jaringan dagang dan juga sukses menjalin hubungan dagang dengan mereka yang beragama islam. Misalnya pada tahun 1880-an, Haji sekaligus pemimpin dagang yang paling disegani di Batangmata, Mohammad kasim, menjalin hubungan dagang langsung ke Singapura melalui agennya, Syekh Abdul wahid. Ia juga mempergunakan statusnya sebagai orang Islam asal selayar untuk melakukan kontrak pribadi dengan beberapa syarif (keturunan dari Rasulullah) di Mekah dan menjamin bahwa calon jemaah haji asal selayar akan menggunakan perahunya di Singapura dan agennya akan membantu jemaah haji Selayar menuju dan kembali dari Mekah29.

Pada tahun 1840-an, dengan dukungan Opu Bontobangung, untuk pertama kalinya pedagang cina menetap di Padang. Dipilihnya Opu Bontobangung sebagai pendukung bagi pedagang asing ternyata berhasil sebab Opu-opu yang lain sendiri akan lebih berpeluang sebagai musuh politik ketimbang kawan30.

Tjoa lesang (Baba Lesang) dan beberapa pedagang lain kemudian terlibat dalam perdagangan teripang dan menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Cina di Makassar serta mewakili beberapa perusahaan Belanda di sana. Selanjutnya mereka membentuk sebuah jalinan dagang yang penting antara Makassar dan pedalaman-pedalama di kepulauan sebelah timur, yang membawa produk-produk hutan dan produk laut dari Maluku dan Timor ke Makassar serta mendistribusikan berbagai komoditas lain ke Selayar dan daerah-daerah lain31.

Munculnya Monopoli Cina (1880-1930)

Perdagangan kopra menyebabkan meningkatnya produksi pengolahan dan perdagangan kelapa, tetapi keadaan ini pula yang menyebabkan terjadinya percepatan pola ekspansi yang dimulai pada akhir abad 19. Cara memproduksi kopra lebih sederhana ketimbang minyak kelapa32. Pengolahan kopra hanya membutuhkan pengeringan kelapa dengan cara diasapi sementara pengolahan minyak kelapa membutuhkan waktu dan proses yang lebih lama seperti pemarutan dan penanakan.

Kopra Selayar pertama kali diekspor ke Eropa melalui Makassar pada tahun 1880. Empat tahun kemudian baru kopra Selayar dikapalkan ke Tanah Jawa. Perdagangan kopra dan komoditas-komoditas dagang lain seperti kelapa dan minyak kelapa terjadi dalam beberapa dekade antara tahun 1880-1900, tetapi setelah tahun 1900, kopra menjadi komoditas yang dominan dan pada awal abad 20, perekomomian Selayar dalam keadaan krisis akibat ketergantungan pada ekspor kopra33. Untungnya perdagangan kelapa dan minyak kelapa tidak terlalu merosot sehingga kurang lebih bisa menjadi penopang ketika harga kopra merosot34.

Sebetulnya pedagang-pedagang dari Batangmata lebih duluan memulai ekspor kopra dibanding rival mereka, Pedagang-Pedagang Cina yang ada di pusat-pusat perdagangan bagian tengah pulau. Tetapi karena pedagang-pedagang cina memiliki akses modal dan distribusi yang lebih besar dengan perusahaan-perusahaan dagang Eropa di Makassar, maka pedagang-pedagan cinalah yang kemudian mendominasi alur perdagangan Selayar-Makassar36.

Pedagang-Pedagang Cina ini memiliki peranan penting dalam hirarki struktur dagang kopra di Indonesia tImur. Pentingnya Pedagang-pedagang Cina ini bagi orang Eropa diganbarkan dengan baik oleh seorang pelancong Inggris yang berkunjung ke Singapura pada awal abad itu dengan mengatakan bahwa, Perusahaan Dagang Eropa dan semua usaha dagang yang ada di timur tak akan mampu berjalan seminggu pun tanpa bantuan Orang Cina, baik itu mereka yang menjabat sebagai shroff, komprador atau pun juru tulis37.

Pada puncak hirarki dagang, ada beberapa perusahaan Eropa di Makassar yang mengatur pengapalan kopra ke Eropa. Kopra memiliki memiliki beberapa keuntungan dibanding minyak kelapa karena lebih tahan lama. Perusahaan-perusahaan Eropa ini memberi tambahan modal kepada pedagang-pedagang cina (tauke) yang bertugas mengumpulkan kopra dari area produksi yang tidak terjangkau oleh mereka. Untuk mengumpulkan kopra, para tauke mempekerjakan penduduk pribumi (papalele) yang juga terkadang menjadi produsen kopra yang diberi modal oleh tauke. Kopra untuk sementara akan disimpan di gudang baru kemudian diangkut dengan kapal uap milik Royal Packeboat Company (KPM)38 ke Makassar.

Keterlibatan penduduk pribumi dalam perdagangan kopra, berbeda-beda. Yang menjadi produsen biasanya lebih tertarik pada harga tinggi. Ketika harga yang ditawarkan pasar tidak sesuai dengan keinginannya, maka mereka akan menyimpan kopranya sampai harga yang terakhir, bahkan biasanya kembali mengolah minyak kelapa. Sementara itu seorang Papalele lebih memusatkan perhatiannya pada fluktuasi harga.

Pada saat harga kopra meninggi¸ Papalele tidak jarang mengalami kesulitan membeli semua kopra karena modalnya yang terlalu kecil sementara orang selayar lebih memilih menggunakan uang logam ketimbang uang kertas39. Ketika harga jatuh, papalele susah mendapatkan keuntungan karena perbedaan harga beli dan jual di Makassar40. Margin of profit ini kadang diperkuat pula oleh ketidak beruntungan jika berat kopra menurun saat dijual, yang biasanya menurun sampai 10 persen41.

Fluktuasi harga juga penting bagi para tauke yang lebih sering berspekulasi. Para tauke yang membeli kopra sampai berton-ton biasanya memilki keahlian tersendiri dalam menaksir prosentase kandungan air di dalam kopra, sehingga mereka pun memotong harga pembelian separuhnya jika ada kopra yang terlalu basah42.

Setelah kenaikan harga kopra yang lamban pasca Perang Dunia I yang sebelumnya sempat jatuh, maka pada tahun 1919 dan 1920, harga kopra kembali melambung dan menurun menuju kestabilan. Namun setelah beberapa waktu lewat dari tahun 1920-an, harga kopra perlahan turun. Harga tinggi terjadi akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran yang sempat membuat kesejahteraan para produsen kopra di Selayar meningkat selama dua dekade pada abad itu.

Pada tahun 1925, Van Setten menghitung laba bersih kopra di Minahasa yakni f 5 ( 5 gulden) tiap picul (61,7 kg) atau f 1 tiap satu pohon kelapa43. Saat itu, orang-orang Selayar menabung uang mereka sementara di Minahasa, para petani kopra cenderung memboroskan unag mereka misalnya untuk membeli mobil. Orang Selayar sendiri menginvestasikan uang mereka dalam bentuk gigi emas, kadang dipakai untuk biaya pernikahan, pendidikan atau ditabung. Pada tahun 1920, Controleur Baden memperkirakan uang cash yang tersimpan di selayar sampai tahun 1928 adalah sebesar 5 juta gulden dimana sejumlah besar tertdiri dari uang koin.

Pada abad 20, status sosial di Selayar ditentukan dengan kepemilikan pohon kelapa. Pernikahan di selayar dilakukan dengan pembayaran sunrang ( mahar) oleh keluarga pengantin laki-laki kepada keluarga perempuan sebagai konsekwensi “pindahnya” mempelai wanita dari keluarga intinya. Di awal tahun 1880-an, sunrang biasanya terdiri dari sejumlah uang dan barang-barang mewah dan hanya sesekali dalam bentuk pohon kelapa.

Jumlah sunrang disesuaikan dengan status mempelai wanita. Pada abad 19, sunrang dalam bentuk pohon kelapa adalah 20, 40 sampai 80 pohon atau jika diuangkan sebesar f 2. Selanjutnya pada abad 20, jumlah pohon kelapa yang dijadikan sunrang berkisar antara 20, 40, 80 sampai 100 pohon45.

Mempelai laki-laki yang status sosialnya lebih rendah harus memperkuat status sosialnya dengan membayar sunrang lebih dari biasanya dan harus mempersiapkan sejumlah uang untuk biaya pesta pernikahannya. Pesta pernikahan adalah pesta dengan biaya termahal, terutama ketika harga kopra melambung. Pesta dilangsungkan di rumah mempelai wanita tetapi dibiayai oleh keluarga mempelai laki-laki. Tidak jarang keluarga mempelai laki-laki harus mengutang demi membiayai pesta pernikahan tersebut.

Pada abad 20, Pemerintah Kolonial Belanda berusaha mempengaruhi masyarakat Selayar level bawah serta “menjinakkan” anak pattola dan anak karaeng yang saat itu memiliki kekuasaan politik dalam bentuk Opu. Di daerah Buki misalnya, keluarga yang berkuasa dan disegani, Luha Daeng Mangalle kehilangan hampir semua kebun kelapanya. Pemerintah memblokade akses mereka ke pemerintahan akibat aksi “kriminal” yang dilakukan oleh ayah Luha, Panenrang Daeng Remba. Kesalahan yang dilakukan Daeng Remba yang menyebabkan kekuatan politiknya melemah dan relasi ekonominya menjauh adalah, memboroskan hartanya dengan menggunakan uang kertas sebagai pembungkus tembakau!47

Kekayaan dan prestise orang selayar kemudian tergantung pada kepemilikan pohon kelapa atau seberapa bisa mereka memperdagangkan kopra. Sistem yang berlaku adalah bagi hasil dengan partner dagang mereka. Tak jarang kepemilikan pohon kelapa menjadi sumber pertengkaran yang dibawa sampai ke meja hijau karena orang-orang yang berkuasa, termasuk para Opu kadang dituduh memiliki kelapa secara ilegal49.

Sementara itu, tauke-tauke Cina memiliki pengaruh yang besar baik terhadp ekonomi makro maupun mikro di Selayar. Hubungan mereka dengan struktur makro maupun mikro yang berpusat di Makassar, berlangsung secara fleksibel. Para tauke yang bergabung dengan persekutuan dagang cina di Makassar, Siang Hwee memiliki hubungan dengan satu atau lebih perusahaan dagang Eropa di Makassar.

Mereka dapat menimbun kopra secara perorangan, namun biasanya mereka lebih sering bergabung dalam satu kongsi kerja sama orang-orang Cina yang memiliki bisnis dalam satu merek. Pada tahun 1910-an, kongsi dagang kopra yang paling berpengaruh di Selayar adalah Hap Tjoen & Co. perusahaan ini memiliki 4 orang anggota yangh berasal dari keluarga Oei Tjoan Goan dan Oei Hok Goan. Mereka bersaudara50

Pada tahun 1918, Hap Tjoan & Co mendominasi 75 persen ekspor Selayar, namun pada bulan april 1922, perusahaan tersebut bangkrut. Mungkin karena merosotnya harga kopra secara tiba-tiba setelah perang. Kebangkrutan terparah dialami oleh perusahaan Eropa yang mengalami kekurangan modal. Namun dengan segera, para pedagang cina kemudian memulihkan diri dari kebangkrutan mereka. Kwee Liem hong, salah satu anggota Hap Tjoen mulai aktif lagi berdagang kopra di selayar setelah sempat dipenjara selama beberapa bulan.

Liem Hong adalah seorang pedagang yang pintar dan memiliki kontak pribadi dengan Selayar. Sebagai wakil manager dari perusahaan Tiong Seng ia mulai mengumpulkan kopra, sementara itu saingan terberatnya adalah Jo Tjoe Tjae dari perusahaan Oei Seeu wen & Co.

Pada tahun 1924 Kwee Lim Hong menguasai 80 persen ekspor kopra Selayar sedangkan Jo tjoe Tjae menguasai 20 persennya. Ini menyebabkan meningkatnya harga kopra di selayar secara besar-besaran dan renggangnya hubungan antara dua pedagang ini sampai akhirnya dibuat perjanjian bahwa Jo tjoe Tjae akan menunda penjualan kopra Selayar selama beberapa bulan sebagai ganti pembayaran sebesar f 1000 tiap bulan.

Kwee lim Hong menjadi Raja Kopra Selayar seperti pedagang kopra Cina lain di Sulawesi51. Sementara itu Jo Tjoe Tjae meninggalkan perdagangan kopra sama sekali setelah perjanjian tersebut dan pembagian pasar diserahkan kepada Go Ke Hong lalu dilanjutkan oleh Baka Oto ( N. V. Yet Thiong)52. Pada tahun 1928, Kwee Lim Hong kembali mengalami kebangkrutan dan bangkit lagi pada tahun 192953.

Hubungan dagang antara pedagang-pegangan Cina dan orang-orang Selayar relative baik. Sebelum tahun 1930-an, peranakan Cina ( keturunan Cina yang lahir dari pembauran dengan penduduk setempat dan dijuluki “Baba”) mendominasi perdagangan kopra Selayar. Kwee Lim Hong (panggilan : Baba Lihong) adalah salah satu di antara mereka. Baba Lihong menikahi salah satu perempuan di kampung Bitombang sampai akhirnya mendominasi perdagangan kopra54.

Baba Lihong nampaknya sangat populer di Selayar. Walaupun bukan muslim, ia membiayai pembelian kayu untuk atap bangunan mesjid di Bitombang dan memiliki hubungan baik dengan Opu Bonea, Opu Muhammad Daeng malewa55. Di tahun 1920-an ia menjadi kreditor terbesar di Selayar. Sebagai bayaran dari piutangnya, ia mengambil hasil panen sebelum hutang dilunasi56.

Sementara itu di daerah lain seperti Minahasa, pinjaman hutang berlangsung dengan bunga tinggi dan berakhir dengan kehilangan kebun kelapa ketika mereka tidak mampu membayar hutang, sehingga kreditor beralih menjadi pemilik kebun kelapa. Kasus seperti ini banyak terjadi ketika berlangsung depresi ekonomi awal tahun 1930-an pada saat harga kopra jatuh57. Namun di Selayar, hal seperti ini tidak pernah ditemui. Mungkin karena orang Selayar yang pandai menabung. Pun karena para kreditor Cina lebih suka menerima bayaran hutang dari hasil panen ketimbang berusaha memiliki kebun kelapa58.

Pemerintahn Kolonial sendiri hanya bisa terlibat secara tidak langsung, misalnya dalam hal registrasi yang tidak selamanya berlangsung efektif karena terjadinya konflik rasionalisasi ekonomi antara pemerintah kolonial, pedagang perantara dan produsen kopra. Intervensi pemerintah kolonial terhadap perdagangan karet nampaknya tidak bisa segencar perdagangan kelapa karena hilangnya kepercayaan penduduk terhadap pemerintah kolonial yang ingin melobi59.

Kualitas kopra di Makassar yang kadang-kadang rendah sehingga harganya lebih rendah dibanding daerah lain menyebabkan Gubernur H.N.A Swart yang saat itu memerintah Celebes merasa keberatan. Ia mengangap telah terjadi penyalahgunaan dalam perdagangan kelapa dan kopra di selayar sehingga pada tahun 1906 ia menerbitkan ordonansi tentang pembentukan Klappakeur dan Coprakeur60 ( Inspeksi kebun kelapa dan inspeksi kopra).

Klappakeur menitikberatkan pada inspeksi pengolahan kelapa secara umum misalnya tentang pembersihan kebun dari hama. Namun inspeksi ini justru menimbulkan kebencian orang-orang Selayar terhadap pegawai pemerintah yang mengatakan bahwa orang-orang selayar menanam pohon kelapa dengan jarak yang terlalu rapat sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pohon dan hasil. Di samping itu orang selayar pun menolak menebang pohon kelapa yang sudah tua. Banyak orang Belanda tidak paham bahwa jumlah pohon kelapa sangat penting bagi orang Selayar karena menunjukkan jumlah sunrang61.

Sementara itu Coprakeur ditujukan untuk meningkatkan kualitas kopra yang sering hitam karena terlalu lama diasapi atau terlalu basah. Tetapi inspeksi ini pun tidak efektif karena biasanya harga kopra bukan ditentukan oleh kualitasnya tetapi kuantitasnya. Kualitas kopra yang baik adalah yang kering, namun ini membutuhkan waktu yang lama dalam pengolahannya, dan harus dijual dalam jumlah yang banyak untuk mendapatkan keuntungan besar. Itu sebabnya penduduk setempat menjual kopra kering nanti ketika harga kopra jatuh, ketika terjadi perbedaan harga yang tajam antara kopra kering dan kopra campuran (campuran yang basah dan kering-penerj)63. Maka usaha quality control yang dilakukan pegawai inspektor atau yang disebut mantri kopra biasanya tidak efektif pada saat booming kopra, karena pedagang menengah lebih memperhatikan jumlah ketimbang kualitas64. Pemerintah Belanda menganggap aktivitas pedagang perantara, terutama pedagang cina sebagai penghalang meningkatnya kualitas kopra dan merugikan penduduk setempat.65

Pada akhir tahun 1920-an, pemerintah kolonial mencoba mengurangi kekuatan para pedagang perantara dengan melakukan standarisasi berat agar tidak terjadi ketimpangan harga, dan mencoba menyediakan informasi mengenai perdagangan kopra, yang sebelumnya dimonopoli oleh Baba Lihong Dan Go ke Hong66. Pada masa-masa ini memang terjadi ketimpangan informasi serta perselisihan tajam antara produsen kopra lokal (papalele) dan perusahaan dagang Eropa. Papalele, dalam menjalankan tugasnya untuk tauke tidak tahu banyak tentang macroekonomi dan jarang ke Makassar. Ini digambarkan melalui wawancara dengan papalele yang masih merasakan resesi di tahun 1930-an akibat pecahnya Perang dunia.

Sementara itu, perusahaan pengekspor pun sering kehilangan informasi terpercaya mengenai kondisi lokal daerah terpencil. Swets, salah satu pekerja Belanda di Oliefabrieken Insulinde, mengatakan dalam laporannya bahwa, Agen Adelink, walaupun telah menjadi Residen di Makassar selama 25 tahun, tidak pernah mengunjungi kebun-kebun kelapa di Maluku. Ia mengatakan :

“Yang kami amati, Perhatian Mister Adelink tentang wilayah-wilayah produsen kopra hanya bersandar pada kabar angin, dan tentunya juga mengenai keadaan orang-orang di sana sehingga ia gagal mengamati kebutuhan objektivitasnya”67

Pedagang-pedagang dari Batangmata juga bersaing dengan tauke-tauke Cina dan KPM. Pedagang-pedagan ini telah kehilangan peranan penting dalam perdagangan jarak jauh sejak KPM mengumpulkan dan mendistribusikan berbagai komoditas dagang dengan kapal uap. KPM, yang memiliki rute terjadwal dan juga rute tak terjadwal, mencoba mengambil semua rute transpor rempah-rempah di Sulawesi selatan. Namun upaya ini sedikit macet apabila datang angin timur, sehingga pada saat itu, mereka terpaksa mengurangi muatan. Kesempatan ini dipergunakan para pedagang Selayar dan pedagang dari Sulawesi selatan lainnya untuk membawa kopra ke Makassar dan ke Surabaya.68

Para pedagang haji yang masih menggunakan sistem modala, mengurangi jumlah muatan lain dan memasok lebih banyak kopra serta mengembangkan sistem perdagangan yang lebih luas, misalnya memuat berbagai barang dagangan dari toko-toko di Surabaya, berlayar dengan angin barat awal ke Bali untuk memuat tembakau, mengambil kain di Selayar dan berlayar ke Maluku, lalu kembali ke Selayar dengan membawa hasil hutan dari Maluku dengan angin timur.

Membangun kembali Perdagangan kopra (1930-1950)

Pada tahun 1930-an, terjadi depresi ekonomi dunia yang disertai menurunnya produktivitas kopra akibat penyakit dan usia pohon kelapa yang sudah tua. Ini menyebabkan memburuknya perdagangan kopra di Selayar sekaligus menandai era baru perdagangan kopra di selayar70.

Setelah tahun 1929, perdagangan dunia menurun secara drastis dan makin nampak ketergantungan orang-orang Selayar pada perdagangan kopra. Mereka yang menetap di tengah pulau sebagai pekerja di kebun-kebun kelapa atau sebagai buruh kasar dalah perdagangan kopra menjadi korban pertama. Upah mereka dikurangi. Sementara itu, para pemilik kebun kelapa yang luas, menunda produksi kopra dengan harapan, harga kopra akan membaik. Produksi panen akhirnya tertunda selama bertahun-tahun.

Melambungnya harga kopra yang pernah membuat orang selayar mengkonsumsi beras impor yang mahal dan ladang-ladang yang kebanyakan telah ditanami kelapa membuat produksi pangan sulit dilakukan. Banyak orang selayar yang kemudian bertahan dengan cara lama, yakni membuat minyak kelapa dan menenun kain. Sementara itu pemerintah Belanda mencoba melakukan diversifikasi ekonomi selayar dengan menggalakan tanaman lain seperti jeruk71.

Para bangsawan tetap menguasai kepemilikan kelapa pada tahun 1930-an72. Di antara para bangsawan ini, ada yang membagikan kebun kelapa tersebut sehingga kebun-kebun kelapa akhirnya jatuh ke tangan orang-orang kaya yang stratanya lebih rendah. Papalele yang beruntung adalah, Tunru Daeng Sagala, bangsawan rendah dari Parak (masuk dalam Regency Bonea). Ia membeli kebun kelapa antara tahun 1916 sampai 1924. Statusnya sosialnya pun dianggap telah meningkat karena menyerahkan puterinya, Mariama untuk dinikahi oleh Abdul Halim, putra Opu Muhammad Daeng Malewa dari Bonea, opu yang terkaya di Selayar.

Selama dan setelah Perang Dunia II, Masariki, putra Tunru Daeng Sagala dan pedagang cina bernama Ance Poa dari Batangmata memperoleh bagian penting dari kepemilikan kebun kelapa ketika putra Malewa, Tjinrapole menjual semua kebun kelapa milik ayahnya73.

Posisi bangsawan-bangsawan ini semakin terancam ketika aktivis-aktivis Muhammadiyah mengkritik adat, terutama dalam pembayaran sunrang sebesar f 2,50 tanpa peduli status yang mana. Ini pun menyebabkan goyahnya sistem strata di Selayar74.

Pada tahun 1930-an, cina peranakan kehilangan kendali terhadap perdagangan kopra yang mulai diambil alih oleh pedagang Cina totok yang merupakan pendatang baru. Pedagang cina totok ini adalah pelarian politik dan ekonomi dari negara asal mereka akibat perang sipil antara Kuomintang dan komunis serta Perang Cina-Jepang.

Ketika terjadi depresi ekonomi banyak perusahaan cina peranakan yang jatuh bangkrut akibat dari teknik spekulasi mereka. Para Cina totok, oleh orang Selayar, digelari Ance75. Mereka datang tanpa memiliki apa-apa melalui Singapura, Medan dan Makassar. Mereka kemudian bergabung dalam perdagangan enceran dengan didanai oleh cina peranakan. Setelah memiliki sejumlah modal, mulailah mereka berbisnis dengan modal sendiri.

Cina totok yang paling sukses dalam perdagangan di Selayar adalah Oei Ek Tjoang ( Ance Beru). Ia adalah importer barang-barang toko yang paling penting di Selayar. Kekuatan posisi ekonominya membuat ia mampu membantu perusahaan dagang Cina di Makassar dan mendanai perdagangan kopra tingkat lokal pada tahun 193776.

Pada tahun 1930-an, Kwee Lim Hong tetap aktif berperan tidak langsung dalam perdagangan kopra. Nampaknya ia tidak memiliki akses pinjaman dari Makassar, bahkan bekas papalelenyalah yang membiayai pendidikan puteranya, Baba Siang di Bandung. Papalele-papalele inilah yang juga melanjutkan perdagangan kopra dengan mengirim kopra pada atasan mereka, para Cina di makassar77. Kwee Lim Hong lalu menjadi penasehat bagi bekas papalele-nya.

Setelah Baba Siang menyelesaikan pendidikannya, ia menjadi pedagang perantara dari Selayar ke Makassar. Saat itu gap antara level perdagangan kopra mikrp dan makro semakin tajam.

Beberapa cina totok juga terlibat langsung dalam perdagangan kopra. Mereka tinggal menyebar sepanjang pesisir barat dengan mengimpor kain dan menampung kopra. Di daerah-daerah ini terjadi kompetisi yang sehat.

Dua cina totok, Ance Tonga ( Loe Boen Thoeng) dan Ance Poa (Ho Ke Po) yang memiliki hubungan kerabat jauh, bahkan tinggal di Batangmata, yang merupakan daerah basis kekuatan pedagang haji79. Sementara itu di Benteng, menetap saudara dari Go Ke Hong ( meninggal tahun 1930), yakni Ance Honga ( Go Ke Ho) yang bersama sepupu Ance Poa melanjutkan kerja sama dengan Baka Oto.

Harga kopra tidak menunjukkan perkembangan yang berarti selama tahun 1930-an seiring munculnya industri minyak yang besar, Unilever, sebagaimana yang digambarkan oleh Brookfield:

“Bisnis kopra seketika mengalami ketergantungan pada organisasi tunggal, unilever yang merancang pengembangan teknis dalam menggabungkan jenis minyak yang berbeda dari berbagai lemak untuk menekan pembelian dan efisiensi harga produksi82. Faktor penting yang lain adalah pembatasan perdagangan di eropa dan Amerika Serikat yang mencoba mencegah ekspor kopra dari Negara sekutu mereka”83.

Posisi perdagangan kopra yang berbahaya bagi penduduk setempat pada tahun 1930-an ini membuat Pemerintah Belanda tidak sanggup mengembangkan perdagangan kopra di Indonesia Timur walaupun melalui penerapan sentralisasi dan sistem regulasi pembelian.

Pecahnya Perang dunia II kemudian menyebabkan kondisi ini menyebar lebih luas. Pada tahun 1940, ketika tidak mungkin dilakukan ekspor ke Eropa, sebuah pembeli bernama Coprafound muncul. Coprafound mengatur pembelian dan penyimpanan kopra, melakukan standarisasi kualitas dan pengepakan, serta menerbitkan harga kopra secara berkala kepada produsen. Pemerintah Belanda akhirnya memiliki sebuah instrumen untuk mengontrol dan meningkatkan kualitas kopra sesuai keinginan mereka.

Setelah kehancuran akibat pendudukan Jepang antara tahun 1942 sampai 1945, semua kopra yang berasal dari Selayar harus diekspor ke Makassar dan dijamin dengan harga yang stabil. Namun setelah perang, perahu-perahu dari Batangmata dan daratan Sulawesi mulai menyelundupkan kopra ke Surabaya dan ke Singapura karena di kota-kota ini, harga kopra sering lebih tinggi. Di samping itu, coprafound tidak sanggup mengangkut semua kopra yang terkumpul akibat kurangnya kapal uap pasca perang sehingga kopra harus disimpan selama berbulan-bulan di Selayar.

Tidak hanya pemerintah Belanda yang memperkuat peranannya dalam perdagangan kopra setelah masuknya Coprafound, tetapi penduduk setempat di Sulawesi selatan pun menguatkan posisi mereka, saat Coprafound berusaha melemahkan posisi pedagang kopa Cina. Kondisi yang tidak aman akibat pergerakan kemerdekaan memaksa pedagang cina untuk mengalah dan membatasi aktivitas dagang kopra mereka dan beralih menjadi peminjam modal bagi pedagang setempat.

Munculnya Coprafound kemudian membuat penduduk setempat juga tidak bisa menjembatani celah (gap) antara perdagangan Selayar dan Makassar. Mereka akhirnya menempuh cara lain. Papalele Selayar bernama Lihing, misalnya membangun hubungan dekat dengan saudaranya, Muluk sebagai perwakilan di Makassar. Hubungan yang sama dulakukan pedagang kopra asal Mandar, Haji Abdoe Mas’oed Daoed, dengan puteranya yang pulang pergi dari Makassar ke daerah asal mereka, Campalagiang.

Kesimpulan

Sejarah sosio-ekonomi kolonial di Indonesia masih didominasi prespektif eropasentris. Perhatian para sejarahwan masih sering mengikuti perkembangan ekonomi yang dituntun oleh orang-orang Eropa sehingga untuk perdaganghan kelapa dimana orang-orang Eropa tidak banya terlibat, relatif belum dikenal dan hanya digambarkan secara klise sesuasi dengan persepsi Negara-negara kolonial. Hal ini terjadi karena orang-orang Eropa merasa frustasi sebab tidak sanggup mengemabangkan tanaman kelapa menjadi tanaman yang sukses, sementara penduduk setempat dapat mengeksploitasi tanaman ini dan mendapatkan keuntungan yang besar.

Dalam perdagangan kopra, orang-orang Eropa harus bekerja sama dengan orang cina sebagai pedagang perantara, karena pedagang-pedagan cinalah yang mampu mengembangkan jaringan dagang yang luas dan memiliki eksistensi yang bahkan bisa menghalangi orang-orang eropa.

Sebelum periode kopra, perdagangan kelapa susah dimonopoli sampai ketika pedagang haji di Batangmata dan pedagang cina di Padang berkonsentrasi pada perdagangan barang-barang mewah.

Kebangsawanan sangat diuntungkan oleh proses simultan dari eksistensi dan akumulasi perkebunan kelapa, dimana mereka memperkuat hubungan kerja sama perkawanan selama masa-masa booming kelapa dengan mengontrol produksi kelapa, tanaman yang sangat penting bagi status sosial orang selayar.

Ketika kopra menjadi komoditas ekspor, perdagangan kopra terintegrasi secara kuat ke dalam pasar dunia, dan berhasil memimpin terciptanya hirarki komersil terhadap spesialisasi etnik. Ditambah lagi dengan digemarinya kelapa di seluruh dunia, sehingga ini tidak menimbulkan hubungan “mangsa-predator” dalam perdaganngan, tetapi dapat dinikmati oleh level bawah.

Posisi kebangsawanan tidak betul-betul berpengaruh pada periode pertama perdagangan kopra dan beberapa orang bisa sukses sebagai papalele dalam perdagangan kopra. Kebencian melemah ketika semua orang diuntungkan oleh perdagangan kopra, namun berkembangnya kelapa menjadi tanaman tunggal juga merupakan bom waktu. Sementara Pedagang cina di Selayar, walaupun menjadi kaya karena berhasil mengontrol ekspor kopra namun pada umumnya tidak terlibat dalam kepemilikan.

Depresi pada tahun 1930-an di Selayar pun menandai era baru perdagangan kopra. Perdagangan kelapa di Selayar terpecah-pecah. Sebelumnya didominasi oleh cina peranakan, akhirnya digantikan oleh cina totok pendatang baru. Posisi para bangsawan lalu diserang oleh reformis-reformis islam.

Meningkatnya kekuatan kalangan biasa dipicu oleh terjadinya disintegrasi monopoli cina peranakan. Muncul kemudian Coprafound yang memutus hubungan mereka dengan Makassar. Coprafound yang merupakan badan kepercayaan Unilever ini akhirnya membuat orang Eropa mampu mengontrol perdagangan kelapa yang tidak bisa dilakukan sebelumnya.

(Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari jurnal : Selayar and The green gold, The development of the coconut trade on an Indonesian Island (1820-1950)

Oleh : Christiaan Heersink, Alih bahasa : Andi Amrang Amir

Penerbit : Cambridge University Press 1994

JATUH BANGUN PERDAGANGAN EMAS HIJAU DI SELAYAR ANTARA TAHUN 1820-1950

Oleh : Christiaan G. Heersink

Alih bahasa : Andi Amrang amir

Di masa kolonial, banyak orang Eropa mengangap bahwa kelapa adalah tanaman para pemalas1. Namun untuk orang Indonesia sendiri, tanaman ini sangat menguntungkan, apalagi ketika industri-industri besar di Eropa pada awal tahun 1880-an menggunakan kopra (biji kering dari kelapa) sebagai bahan dasar produksi sabun dan margarin. Saat itu diperkirakan sepertiga kebutuhan kopra dunia dipasok dari Hindia Belanda. Kopra menjadi komoditas ekonomi yang penting di Indonesia timur. Pada tahun 1939, kopra memiliki prosentase sebesar 80 persen untuk komoditas ekspor wilayah Indonesia timur dan 60 persen dari total komoditas ekspor2.

Di beberapa wilayah di Indonesia, kopra dijuluki “The green gold” (emas hijau) 3. Orang-orang Eropa juga terlibat dalam pengolahan kelapa tetapi dalam jumlah terbatas. Pada paruh pertama abad 19, perdagangan kopra didominasi penduduk setempat dengan kisaran 94 persen, sementara pedagang cina menjadi pedagang perantara mendominasi perdagangan kopra level menengah.

Pentingnya kopra sering dicatat dalam literatur sejarah ekonomi Indonesia. Dimana analisis terhadap perluasan perdagangan kopra dikatakan kurang bisa terlalu dipahami, karena analisis yang ada saat ini masih seputar analisis level makro, yang memberikan informasi kuatitatif tetapi sangat sedikit menyebutkan dampaknya pada perdagangan lokal. Lagipula tidak jelas bagaimana perdagangan kelapa diorganisir dan bagaimana peran orang Indonesia, Cina dan Belanda yang mencoba melakukan penetrasi atau mengontrol perdagangan kelapa selama masa suksesi. Untuk memahami ini, tentu kita membutuhkan jelajah analisis level mikro.

Artikel ini akan mengulas perdagangan kelapa di Selayar, sebuah pulau di ujung selatan daerah Sulawesi selatan dimana perekomomiannya pernah didominasi oleh perdagangan kelapa selama dua abad. Pilihan dijatuhkan pada Selayar dengan dua pertimbangan:

Pertama, pulau tersebut telah memimpin perdagangan ekspor kelapa sebelum perdagangan kopra sehingga bisa dikatakan bahwa, pertumbuhan kelapa tidak sekedar orientasi substansi atau prioritas statis ketika berintegrasi dengan pasar dunia.

Kedua, pulau ini merupakan sedikit dari wilayah di Indonesia timur yang disurvey lebih intensif oleh pemerintah lokal selama goncangan Perang Dunia II dan pergerakan nasional Indonesia.

Artikel ini menggambarkan bahwa perluasan perdagangan kelapa mempunyai sebuah pengaruh yang penting bagi masyarakat Selayar, misalnya ketika kepemilikan kebun kelapa menjadi indikator utama mobilitas social. Integrasi perdagangan kelapa terhadap pasar dunia pada awal abad 20 menyebabkan hilangnya dominasi pedagang lokal walaupun mereka pun tidak lantas ter-subordinasi secara total. Sementara itu, orang-orang Eropa mengalami kesulitan untuk melakukan penetrasi terhadap perdagangan kelapa dan hanya berhasil sedikit sampai pasca 1930.

Artikel ini dimulai dengan pendahuluan singkat terhadap struktur sosial-ekonomi di Selayar. Setelah itu, perkembangan perdagangan kelapa di Selayar akan dianalisis dalam tiga bagian : Periode Sebelum Kopra ( 1820-1880), Tumbuhnya monopoli Cina ( 1880-1930) dan Periode depresi setelah kemunculan Coprafound( 1930-1950).

Penelitian ini sebagian besar mengambil referensi dari gambaran material Algemeen Rijksarchief Den Haag ( ARA), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta dan Makassar serta sejumlah wawancara di Makassar dan perjalanan ke Selayar dari bulan November 1990 dan November 1991. Kebanyakan wawancara tersebut berlangsung dalam bahsa Indonesia kecuali dengan beberapa orang selayar, dimana kami dibantu oleh Bapak Guru Arifin dan Andi Balasa sebagai penerjemah bahasa setempat.

Gambaran umum Tentang Selayar

Pulau selayar memiliki panjang 80 km dan lebar maksimal 13 km. Pulau ini terdiri dari pegunungan dan tanah gersang yang tidak bisa dipercaya akan dapat menumbuhkan tanaman, khususnya di bagian utara. Mayoritas penduduk beragama Islam. Di masa kolonial, makanan utama mereka adalah jagung yang ditanam di ladang (lahan tanpa irigasi) yang banyak terdapat di daerah-daerah perbukitan. Sementara itu beras didatangkan dari daratan Sulawesi dan sebagian kecil di daerah Sunda. Pada dasarnya, lahan yang paling banyak ditanami kelapa adalah daerah pesisir barat tetapi di pulau ini, di pucuk-pucuk bukit pun, tanaman kelapa tidak susah ditemukan.

Selayar memiliki jaringan ekonomi yang luas selama berabad-abad karena letaknya yang strategis dalam jalur perdagangan antara Makassar dan pulau-pulau di Indonesia timur misalnya di Maluku yang menjadi pusat rempah-rempah. Integrasi terhadap jaringan perdagangan ini kemudian menyebarkan pula komoditas Selayar yang lain seperti tekstil ( setelah tahun 1600) dan teripang ( sejak 1750-an). Pulau tersebut beralih dari kekuasaan Gowa ke Belanda setelah kekalahan Gowa dari kekuatan gabungan Laksamana Speelman dan Pangeran Bugis, Arung Palakkan tahun 1667.

Selayar merupakan daerah penyebaran orang-orang Bugis-Makassar dari Sulawesi Selatan dimana mayoritas penduduknya berbicara dalam bahasa dialek Makassar. Masyarakatnya memiliki ciri khas seperti di daerah-daerah tetangganya yang berada di antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan, yang menyebabkan terjadinya mobilitas sosial, dan di sisi lain, terjadi stabilitas struktur sosial6. Kekuatan politis tertinggi yang terpecah menjadi sekitar 10 distrik distabilkan oleh sederet intervensi Belanda, khususnya setelah awal abad 19.

Setiap regency dipimpin oleh seorang yang bergelar Opu, yang dipilih di antara Anak pattola (bangsawan tertinggi). Anak pattola ini dibentuk bersama-sama dengan anakkaraeng (bangsawan yang lebih rendah). Bangsawan Selayar terpisah jelas dengan strata yang lebih rendah, yakni orang kebanyakan dan budak8.

Status ini dilegitimasi oleh klaim kepemilikan kualitas luar biasa dari sumage (….), sebuah istilah yang diasosiasikan dengan potensi, isi jiwa( stuff) serta jiwa masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi selatan, yang hanya bisa diwariskan lewat keturunan dan diperkuat oleh hukum adat9. Status formal ini telah diseimbangkan dengan kekuatan aktual yang fleksibel dan terstruktur dalam hubungan perlindungan-pertemanan (patron-client) yang berdasar pada pola pengontrolan orang-orang yang berkuasa.

Kebangsawanan Orang Selayar diwujudkan dalam pekerjaan dari bawahan dalam masyarakat Selayar dan sebagai atasan, wajib melindungi bawahan dari kekerasan atau gangguan musuh. Aturan ini berlaku secara umum10. Bawahan selanjutnya membalas segala jasa segala bentuk kebaikan pelindungnya dalam bentuk imbalan ekonomi serta membantu atasannya untuk mewujudkan pengakuan politik. Atasan membutuhkan ini karena kekuatan setiap individu dan legitimasi posisi sosialnya akan segera diuji oleh para pesaingnya. Kegagalan dan keberhasilan melewati “ujian” tersebut akan menyebabkan ekspansi dan kontraksi terhadap para pelanggan, serta kebangkitan dan kejatuhan sebuah keluarga11.

Hubungan system dyadic (…) ini juga membentuk basis ekonomi. Yang terpilih akan menggunakan para budak dan debt bondsmen (..) untuk bekerja di ladangnya, di industri tekstilnya atau di perahunya. Semetara itu, di bidang pertanian, para pekerja akan mengambil bagian dari milik tuannya sebagai balas jasa dari tuannya. Penghapusan perbudakan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1860 di Sulawesi selatan tidak mengakibatkan “perpecahan ekonomi” karena para pekerja pada umumnya mendapatkan “perlindunagn” dari tuannya sehingga perbudakan masih saja berlangsung secara illegal sampai tahun 1920.

Keterlibatan dan perhatian orang-orang Eropa terhadap pengolahan kelapa sangat minim selama periode kolonial. Pada tahun 1849, L.M. F Plate, seorang utusan dari Nederlandsche Handel- Maatshappij(NHM) yaitu sebuah perusahaan Dagang nasional Belanda yang bertempat di Makassar menganggap bahwa kelapa merupakan salah satu komoditas yang sangat menguntungkan. Namun kebanyakan usaha orang Eropa yang mencoba mengolah kelapa mengalami kegagalan karena skema rasionalisasi yang mahal. Di samping itu mereka tidak memiliki akses terhadap para pekerja yang telah “dikontrak” oleh pengusaha setempat setidak-tidaknya 10 tahun sebelum panen pertama. Ini merupakan waktu yang terlalu lama untuk meraup keuntungan13.

Pengolahan kelapa yang dilakukan penduduk setempat sama halnya dengan produk ladang lainnya yang tidak terlalu memerlukan energi yang banyak. Setelah tahap penanaman, mereka punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas lain. Inilah yang menyebabkan orang-orang Eropa menyebut kelapa sebagai tanaman orang malas. Menurut mereka, keuntungan dari perdagangan kelapa tergantung dari harga pasar dan bukan dari optimalisasi pengolahan14.

Periode Sebelum kopra (1820-1880)

Pada paruh pertama abad 19, perdagangan selayar terpusat di pesisir barat, dimana dapat ditemukan sekitar 5 atau 6 pusat perdagangan ( Dari utara ke selatan : Batangmata, Barugayya, Parak, Appabatu, Benteng, Padang, Tongke-Tongke- catatan penej). Pusat-pusat perdagangan ini memiliki komoditas dan jaringan dagang yang sama. Pengaruh Belanda berpusat di Benteng, sebuah daerah yang berada di tengah pulau. Di daerah ini, dibangun post pada awal abad 19, serta ditempatkan seorang Controleur dan Gezaghebber yang mengatur para Opu. Opu ini mengontrol kepala pemerintahan di bawahnya. Mulai saat itu ditetapkan aturan pembayaran iuran untuk ekspor dan impor yang terbukti lemah karena di luar Benteng, terutama di daerah-daerah bagian utara terjadi banyak penyelundupan. Sementara itu di pesisir timur, karena pantainya curam dan sangat sedikit tempat yang bisa dipakai membuang sauh, maka tidak cocok untuk armada dagang berskala besar15.

Pada abad 19, pemerintah Belanda merencanakan penarikan pajak perbandingan buah tiap pohon (fruit-bearing coconut tree) namun rencana ini baru terlaksana pada sekitar tahun 1900. Kebijakan ini dianggap sangat kompleks dan mahal sebab sistem perpajakan yang rill dan adil membutuhkan pegawai yang akan menakar jumlah pohon, mencatat siapa pemiliknya, mengontrol kematangan pohon dan sebagainya16.

Aktivitas Perdagangan penduduk setempat dibiayai dan diorganisir oleh penduduk setempat oleh sebuah sistem yang disebut modala (working capital)17. Biasanya pemilik kapal menyupali berbagai komoditas ke nahkoda (Kapten) Perahu yang memiliki beberapa anak buah kapal (sawi). Setelah mereka kembali dari pelayaran niaga mereka, maka modal dan sebagian keuntungan diserahkan kembali kepada pemilik kapal.

Ada dua jenis komoditas yang diperdagangkan waktu itu yakni : komoditas standar dan komoditas mewah. Komoditas standar adalah komoditas ekspor yang terdiri dari kain, kelapa dan minyak kelapa sementara komoditas mewah adalah barang-barang impor seperti beras dan tembakau. Ruang barang perahu biasanya diisi dengan berbagai komoditas yang beredar di pasar-pasar Selayar. Biasanya, komoditas standar bisa didapatkan dengan mudah di pasar-pasar setempat yang memiliki jaringan pasar dengan pusat perdagangan yang ada di daratan Sulawesi Selatan18. Sementara itu, komoditas mewah membutuhkan ruang tambahan di dalam kapal dan biasanya dilakukan oleh para pedagang antar pulau untuk jarak jauh.

Untuk Perdagangan jarak jauh sendiri, para pedagang memiliki pos sambungan yang bebas ( Far-flung network sattelite) dimana pedagang Selayar terhubung dengan pos perdagangan di Kampung Galange Singapura, serta di tempat-tempat lain seperti di Kalimantan, Jawa, Ambon dan Flores. Berbagai komoditas mewah seperti emas dan bahan-bahan perak diperdagangkan di luar pasar umum melalui jaringan personal. Dengan demikian, jaringan dagang komoditas mewah ini lebih bisa dikuasai ketimbang komoditas standar. Mereka juga bergabung dalam jaringan dagang yang membawa hasil hutan dan hasil laut dari Makassar ke Singapura dan membawa pulang komoditas lain seperti senjata, opium dan tekstil India dari Singapura dalam jumlah kecil.

Pengolahan kelapa menjadi penting pada abad 19. Pada periode tersebut, kelapa menjadi salah satu komoditas dagang yang penting. Bagi yang tidak memiliki kelapa, mereka turut memperdagangkan kain, beras dan jagung walaupun biasanya mereka tetap memiliki sejumlah pohon kelapa dalam jumlah kecil. Pada pertengahan abad 19, seorang pelancong jerman, Zollinger mencatat bahwa, perdagangan kelapa dan minyak hampir menjadi komoditas utama bagi kesejahteraan penduduk yang ia temui. “Kelapa bagi mereka sama pentingnya dengan padi di tempat lain”, katanya.

Pada pertengahan abad 19, perdagangan kelapa, minyak kelapa memainkan peran pada perdagangan tingkat lokal, antar pulau dan tingkat regional utamanya di pulau-pulau kecil21. Selayar mengekspor kelapa dan minyak kelapa ke daerah-daerah lain seperti ke daratan Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumbawa dan sebagainya. Dalam laporan Celebes and dependencies (South Sulawesi) tahun 1860 dinyatakan secara eksplisit bahwa, telah terjadi kekurangan stok kelapa di daerah-daerah tersebut kecuali Selayar.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian memicu penyebaran pohon kelapa ke pulau-pulau lain dengan membawa bibit kelapa dari selayar. Paruh kedua abad 19 ditandai dengan bertambahnya perkebunan kelapa di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk di Selayar sendiri. Tetapi selayar yang memimpin perdagangan kelapa menjadi terancam karena pulaunya yang kecil, sementara di kepulauan sebelah timur, potensi untuk ekspansi lebih besar.

Dengan bertambahnya jumlah perkebunan kelapa di selayar, maka proses akumulasi perkebunan kelapa oleh elit lokal pun dimulai23. Akumulasi (penimbunan) ini melibatkan kekerasan dan penggadaian yang berujung pada persengketaan kepemilikan tetapi dapat dicegah melalui perkawinan dan penerbitan land form division dalam bentuk warisan.

Selama abad 19, perekonomian Selayar mengalami proses moneterisasi, terutama setelah tahun 1863 ketika pajak suara (poll tax) diberlakukan. Biasanya kalangan bawah menggadaikan kebun kelapanya kepada penguasa untuk mendapatkan uang pembayaran pajak, dan kadang dipakai naik haji. Konstribusi terhadap proses akumulasi banyak terjadi di Selayar bagian utara. Orang-orang kehilangan lahan pertaniannya jika tidak bisa mengembalikan pinjaman, tetapi nampaknya kekuatan para elit terhambat oleh klaim kepemilikan asli.

Para Opu diberikan sebuah peranan kunci secara tidak langsung oleh pemerintah kolonial pada abad 19 untuk mengatur Selayar. Mereka sekaligus menjadi pegawai pemerintah kolonial. Di Makassar, pusat pemerintahan regional Belanda, bahkan telah mengizinkan pengangkatan dan pemberhentian mereka. Beberapa opu juga menjadi pecandu opium dan mereka makin tidak mampu mempertahankan posisi mereka dalam “contest state’26.

Pengawasan ketat dari Controleur Belanda kemudian menghalang-halangi praktek tradisional untuk mendapatkan kekuasaan, yang secara langsung menguji kekuatan lawan? Ketimpangan kekuasaan para opu ini meyebabkan meningkatnya ketegangan secara terus-menerus antara opu dan lawan tanding (rival) mereka yang member kesempatan pada orang-orang biasa untuk mendapatkan kekuasaan27.

Pada paruh kedua abad 19, akses untuk menguasai perdagangan jarak jauh meningkat dan dimonopoli oleh dua kelompok: kelompok haji dari Batangmata dan kelompok Cina dari Padang, sebuah perkampungan baru di tengah selayar. Setelah terjadi sederet konflik dengan opu mereka, Daeng Gassing dari Batangmata yang menganggap diri sebagai opu dan dilindungi oleh Belanda ternyata bisa memiliki kekuatan yang besar dalam kepemilikan sebagian besar dari perkebunan kelapa dan perdagangan jarak jauh. Bangsawan Batangmata, utamanya yang memiliki gelar haji28 memperoleh penguatan status diukur dari luasnya jaringan dagang dan juga sukses menjalin hubungan dagang dengan mereka yang beragama islam. Misalnya pada tahun 1880-an, Haji sekaligus pemimpin dagang yang paling disegani di Batangmata, Mohammad kasim, menjalin hubungan dagang langsung ke Singapura melalui agennya, Syekh Abdul wahid. Ia juga mempergunakan statusnya sebagai orang Islam asal selayar untuk melakukan kontrak pribadi dengan beberapa syarif (keturunan dari Rasulullah) di Mekah dan menjamin bahwa calon jemaah haji asal selayar akan menggunakan perahunya di Singapura dan agennya akan membantu jemaah haji Selayar menuju dan kembali dari Mekah29.

Pada tahun 1840-an, dengan dukungan Opu Bontobangung, untuk pertama kalinya pedagang cina menetap di Padang. Dipilihnya Opu Bontobangung sebagai pendukung bagi pedagang asing ternyata berhasil sebab Opu-opu yang lain sendiri akan lebih berpeluang sebagai musuh politik ketimbang kawan30.

Tjoa lesang (Baba Lesang) dan beberapa pedagang lain kemudian terlibat dalam perdagangan teripang dan menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Cina di Makassar serta mewakili beberapa perusahaan Belanda di sana. Selanjutnya mereka membentuk sebuah jalinan dagang yang penting antara Makassar dan pedalaman-pedalama di kepulauan sebelah timur, yang membawa produk-produk hutan dan produk laut dari Maluku dan Timor ke Makassar serta mendistribusikan berbagai komoditas lain ke Selayar dan daerah-daerah lain31.

Munculnya Monopoli Cina (1880-1930)

Perdagangan kopra menyebabkan meningkatnya produksi pengolahan dan perdagangan kelapa, tetapi keadaan ini pula yang menyebabkan terjadinya percepatan pola ekspansi yang dimulai pada akhir abad 19. Cara memproduksi kopra lebih sederhana ketimbang minyak kelapa32. Pengolahan kopra hanya membutuhkan pengeringan kelapa dengan cara diasapi sementara pengolahan minyak kelapa membutuhkan waktu dan proses yang lebih lama seperti pemarutan dan penanakan.

Kopra Selayar pertama kali diekspor ke Eropa melalui Makassar pada tahun 1880. Empat tahun kemudian baru kopra Selayar dikapalkan ke Tanah Jawa. Perdagangan kopra dan komoditas-komoditas dagang lain seperti kelapa dan minyak kelapa terjadi dalam beberapa dekade antara tahun 1880-1900, tetapi setelah tahun 1900, kopra menjadi komoditas yang dominan dan pada awal abad 20, perekomomian Selayar dalam keadaan krisis akibat ketergantungan pada ekspor kopra33. Untungnya perdagangan kelapa dan minyak kelapa tidak terlalu merosot sehingga kurang lebih bisa menjadi penopang ketika harga kopra merosot34.

Sebetulnya pedagang-pedagang dari Batangmata lebih duluan memulai ekspor kopra dibanding rival mereka, Pedagang-Pedagang Cina yang ada di pusat-pusat perdagangan bagian tengah pulau. Tetapi karena pedagang-pedagang cina memiliki akses modal dan distribusi yang lebih besar dengan perusahaan-perusahaan dagang Eropa di Makassar, maka pedagang-pedagan cinalah yang kemudian mendominasi alur perdagangan Selayar-Makassar36.

Pedagang-Pedagang Cina ini memiliki peranan penting dalam hirarki struktur dagang kopra di Indonesia tImur. Pentingnya Pedagang-pedagang Cina ini bagi orang Eropa diganbarkan dengan baik oleh seorang pelancong Inggris yang berkunjung ke Singapura pada awal abad itu dengan mengatakan bahwa, Perusahaan Dagang Eropa dan semua usaha dagang yang ada di timur tak akan mampu berjalan seminggu pun tanpa bantuan Orang Cina, baik itu mereka yang menjabat sebagai shroff, komprador atau pun juru tulis37.

Pada puncak hirarki dagang, ada beberapa perusahaan Eropa di Makassar yang mengatur pengapalan kopra ke Eropa. Kopra memiliki memiliki beberapa keuntungan dibanding minyak kelapa karena lebih tahan lama. Perusahaan-perusahaan Eropa ini memberi tambahan modal kepada pedagang-pedagang cina (tauke) yang bertugas mengumpulkan kopra dari area produksi yang tidak terjangkau oleh mereka. Untuk mengumpulkan kopra, para tauke mempekerjakan penduduk pribumi (papalele) yang juga terkadang menjadi produsen kopra yang diberi modal oleh tauke. Kopra untuk sementara akan disimpan di gudang baru kemudian diangkut dengan kapal uap milik Royal Packeboat Company (KPM)38 ke Makassar.

Keterlibatan penduduk pribumi dalam perdagangan kopra, berbeda-beda. Yang menjadi produsen biasanya lebih tertarik pada harga tinggi. Ketika harga yang ditawarkan pasar tidak sesuai dengan keinginannya, maka mereka akan menyimpan kopranya sampai harga yang terakhir, bahkan biasanya kembali mengolah minyak kelapa. Sementara itu seorang Papalele lebih memusatkan perhatiannya pada fluktuasi harga.

Pada saat harga kopra meninggi¸ Papalele tidak jarang mengalami kesulitan membeli semua kopra karena modalnya yang terlalu kecil sementara orang selayar lebih memilih menggunakan uang logam ketimbang uang kertas39. Ketika harga jatuh, papalele susah mendapatkan keuntungan karena perbedaan harga beli dan jual di Makassar40. Margin of profit ini kadang diperkuat pula oleh ketidak beruntungan jika berat kopra menurun saat dijual, yang biasanya menurun sampai 10 persen41.

Fluktuasi harga juga penting bagi para tauke yang lebih sering berspekulasi. Para tauke yang membeli kopra sampai berton-ton biasanya memilki keahlian tersendiri dalam menaksir prosentase kandungan air di dalam kopra, sehingga mereka pun memotong harga pembelian separuhnya jika ada kopra yang terlalu basah42.

Setelah kenaikan harga kopra yang lamban pasca Perang Dunia I yang sebelumnya sempat jatuh, maka pada tahun 1919 dan 1920, harga kopra kembali melambung dan menurun menuju kestabilan. Namun setelah beberapa waktu lewat dari tahun 1920-an, harga kopra perlahan turun. Harga tinggi terjadi akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran yang sempat membuat kesejahteraan para produsen kopra di Selayar meningkat selama dua dekade pada abad itu.

Pada tahun 1925, Van Setten menghitung laba bersih kopra di Minahasa yakni f 5 ( 5 gulden) tiap picul (61,7 kg) atau f 1 tiap satu pohon kelapa43. Saat itu, orang-orang Selayar menabung uang mereka sementara di Minahasa, para petani kopra cenderung memboroskan unag mereka misalnya untuk membeli mobil. Orang Selayar sendiri menginvestasikan uang mereka dalam bentuk gigi emas, kadang dipakai untuk biaya pernikahan, pendidikan atau ditabung. Pada tahun 1920, Controleur Baden memperkirakan uang cash yang tersimpan di selayar sampai tahun 1928 adalah sebesar 5 juta gulden dimana sejumlah besar tertdiri dari uang koin.

Pada abad 20, status sosial di Selayar ditentukan dengan kepemilikan pohon kelapa. Pernikahan di selayar dilakukan dengan pembayaran sunrang ( mahar) oleh keluarga pengantin laki-laki kepada keluarga perempuan sebagai konsekwensi “pindahnya” mempelai wanita dari keluarga intinya. Di awal tahun 1880-an, sunrang biasanya terdiri dari sejumlah uang dan barang-barang mewah dan hanya sesekali dalam bentuk pohon kelapa.

Jumlah sunrang disesuaikan dengan status mempelai wanita. Pada abad 19, sunrang dalam bentuk pohon kelapa adalah 20, 40 sampai 80 pohon atau jika diuangkan sebesar f 2. Selanjutnya pada abad 20, jumlah pohon kelapa yang dijadikan sunrang berkisar antara 20, 40, 80 sampai 100 pohon45.

Mempelai laki-laki yang status sosialnya lebih rendah harus memperkuat status sosialnya dengan membayar sunrang lebih dari biasanya dan harus mempersiapkan sejumlah uang untuk biaya pesta pernikahannya. Pesta pernikahan adalah pesta dengan biaya termahal, terutama ketika harga kopra melambung. Pesta dilangsungkan di rumah mempelai wanita tetapi dibiayai oleh keluarga mempelai laki-laki. Tidak jarang keluarga mempelai laki-laki harus mengutang demi membiayai pesta pernikahan tersebut.

Pada abad 20, Pemerintah Kolonial Belanda berusaha mempengaruhi masyarakat Selayar level bawah serta “menjinakkan” anak pattola dan anak karaeng yang saat itu memiliki kekuasaan politik dalam bentuk Opu. Di daerah Buki misalnya, keluarga yang berkuasa dan disegani, Luha Daeng Mangalle kehilangan hampir semua kebun kelapanya. Pemerintah memblokade akses mereka ke pemerintahan akibat aksi “kriminal” yang dilakukan oleh ayah Luha, Panenrang Daeng Remba. Kesalahan yang dilakukan Daeng Remba yang menyebabkan kekuatan politiknya melemah dan relasi ekonominya menjauh adalah, memboroskan hartanya dengan menggunakan uang kertas sebagai pembungkus tembakau!47

Kekayaan dan prestise orang selayar kemudian tergantung pada kepemilikan pohon kelapa atau seberapa bisa mereka memperdagangkan kopra. Sistem yang berlaku adalah bagi hasil dengan partner dagang mereka. Tak jarang kepemilikan pohon kelapa menjadi sumber pertengkaran yang dibawa sampai ke meja hijau karena orang-orang yang berkuasa, termasuk para Opu kadang dituduh memiliki kelapa secara ilegal49.

Sementara itu, tauke-tauke Cina memiliki pengaruh yang besar baik terhadp ekonomi makro maupun mikro di Selayar. Hubungan mereka dengan struktur makro maupun mikro yang berpusat di Makassar, berlangsung secara fleksibel. Para tauke yang bergabung dengan persekutuan dagang cina di Makassar, Siang Hwee memiliki hubungan dengan satu atau lebih perusahaan dagang Eropa di Makassar.

Mereka dapat menimbun kopra secara perorangan, namun biasanya mereka lebih sering bergabung dalam satu kongsi kerja sama orang-orang Cina yang memiliki bisnis dalam satu merek. Pada tahun 1910-an, kongsi dagang kopra yang paling berpengaruh di Selayar adalah Hap Tjoen & Co. perusahaan ini memiliki 4 orang anggota yangh berasal dari keluarga Oei Tjoan Goan dan Oei Hok Goan. Mereka bersaudara50

Pada tahun 1918, Hap Tjoan & Co mendominasi 75 persen ekspor Selayar, namun pada bulan april 1922, perusahaan tersebut bangkrut. Mungkin karena merosotnya harga kopra secara tiba-tiba setelah perang. Kebangkrutan terparah dialami oleh perusahaan Eropa yang mengalami kekurangan modal. Namun dengan segera, para pedagang cina kemudian memulihkan diri dari kebangkrutan mereka. Kwee Liem hong, salah satu anggota Hap Tjoen mulai aktif lagi berdagang kopra di selayar setelah sempat dipenjara selama beberapa bulan.

Liem Hong adalah seorang pedagang yang pintar dan memiliki kontak pribadi dengan Selayar. Sebagai wakil manager dari perusahaan Tiong Seng ia mulai mengumpulkan kopra, sementara itu saingan terberatnya adalah Jo Tjoe Tjae dari perusahaan Oei Seeu wen & Co.

Pada tahun 1924 Kwee Lim Hong menguasai 80 persen ekspor kopra Selayar sedangkan Jo tjoe Tjae menguasai 20 persennya. Ini menyebabkan meningkatnya harga kopra di selayar secara besar-besaran dan renggangnya hubungan antara dua pedagang ini sampai akhirnya dibuat perjanjian bahwa Jo tjoe Tjae akan menunda penjualan kopra Selayar selama beberapa bulan sebagai ganti pembayaran sebesar f 1000 tiap bulan.

Kwee lim Hong menjadi Raja Kopra Selayar seperti pedagang kopra Cina lain di Sulawesi51. Sementara itu Jo Tjoe Tjae meninggalkan perdagangan kopra sama sekali setelah perjanjian tersebut dan pembagian pasar diserahkan kepada Go Ke Hong lalu dilanjutkan oleh Baka Oto ( N. V. Yet Thiong)52. Pada tahun 1928, Kwee Lim Hong kembali mengalami kebangkrutan dan bangkit lagi pada tahun 192953.

Hubungan dagang antara pedagang-pegangan Cina dan orang-orang Selayar relative baik. Sebelum tahun 1930-an, peranakan Cina ( keturunan Cina yang lahir dari pembauran dengan penduduk setempat dan dijuluki “Baba”) mendominasi perdagangan kopra Selayar. Kwee Lim Hong (panggilan : Baba Lihong) adalah salah satu di antara mereka. Baba Lihong menikahi salah satu perempuan di kampung Bitombang sampai akhirnya mendominasi perdagangan kopra54.

Baba Lihong nampaknya sangat populer di Selayar. Walaupun bukan muslim, ia membiayai pembelian kayu untuk atap bangunan mesjid di Bitombang dan memiliki hubungan baik dengan Opu Bonea, Opu Muhammad Daeng malewa55. Di tahun 1920-an ia menjadi kreditor terbesar di Selayar. Sebagai bayaran dari piutangnya, ia mengambil hasil panen sebelum hutang dilunasi56.

Sementara itu di daerah lain seperti Minahasa, pinjaman hutang berlangsung dengan bunga tinggi dan berakhir dengan kehilangan kebun kelapa ketika mereka tidak mampu membayar hutang, sehingga kreditor beralih menjadi pemilik kebun kelapa. Kasus seperti ini banyak terjadi ketika berlangsung depresi ekonomi awal tahun 1930-an pada saat harga kopra jatuh57. Namun di Selayar, hal seperti ini tidak pernah ditemui. Mungkin karena orang Selayar yang pandai menabung. Pun karena para kreditor Cina lebih suka menerima bayaran hutang dari hasil panen ketimbang berusaha memiliki kebun kelapa58.

Pemerintahn Kolonial sendiri hanya bisa terlibat secara tidak langsung, misalnya dalam hal registrasi yang tidak selamanya berlangsung efektif karena terjadinya konflik rasionalisasi ekonomi antara pemerintah kolonial, pedagang perantara dan produsen kopra. Intervensi pemerintah kolonial terhadap perdagangan karet nampaknya tidak bisa segencar perdagangan kelapa karena hilangnya kepercayaan penduduk terhadap pemerintah kolonial yang ingin melobi59.

Kualitas kopra di Makassar yang kadang-kadang rendah sehingga harganya lebih rendah dibanding daerah lain menyebabkan Gubernur H.N.A Swart yang saat itu memerintah Celebes merasa keberatan. Ia mengangap telah terjadi penyalahgunaan dalam perdagangan kelapa dan kopra di selayar sehingga pada tahun 1906 ia menerbitkan ordonansi tentang pembentukan Klappakeur dan Coprakeur60 ( Inspeksi kebun kelapa dan inspeksi kopra).

Klappakeur menitikberatkan pada inspeksi pengolahan kelapa secara umum misalnya tentang pembersihan kebun dari hama. Namun inspeksi ini justru menimbulkan kebencian orang-orang Selayar terhadap pegawai pemerintah yang mengatakan bahwa orang-orang selayar menanam pohon kelapa dengan jarak yang terlalu rapat sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pohon dan hasil. Di samping itu orang selayar pun menolak menebang pohon kelapa yang sudah tua. Banyak orang Belanda tidak paham bahwa jumlah pohon kelapa sangat penting bagi orang Selayar karena menunjukkan jumlah sunrang61.

Sementara itu Coprakeur ditujukan untuk meningkatkan kualitas kopra yang sering hitam karena terlalu lama diasapi atau terlalu basah. Tetapi inspeksi ini pun tidak efektif karena biasanya harga kopra bukan ditentukan oleh kualitasnya tetapi kuantitasnya. Kualitas kopra yang baik adalah yang kering, namun ini membutuhkan waktu yang lama dalam pengolahannya, dan harus dijual dalam jumlah yang banyak untuk mendapatkan keuntungan besar. Itu sebabnya penduduk setempat menjual kopra kering nanti ketika harga kopra jatuh, ketika terjadi perbedaan harga yang tajam antara kopra kering dan kopra campuran (campuran yang basah dan kering-penerj)63. Maka usaha quality control yang dilakukan pegawai inspektor atau yang disebut mantri kopra biasanya tidak efektif pada saat booming kopra, karena pedagang menengah lebih memperhatikan jumlah ketimbang kualitas64. Pemerintah Belanda menganggap aktivitas pedagang perantara, terutama pedagang cina sebagai penghalang meningkatnya kualitas kopra dan merugikan penduduk setempat.65

Pada akhir tahun 1920-an, pemerintah kolonial mencoba mengurangi kekuatan para pedagang perantara dengan melakukan standarisasi berat agar tidak terjadi ketimpangan harga, dan mencoba menyediakan informasi mengenai perdagangan kopra, yang sebelumnya dimonopoli oleh Baba Lihong Dan Go ke Hong66. Pada masa-masa ini memang terjadi ketimpangan informasi serta perselisihan tajam antara produsen kopra lokal (papalele) dan perusahaan dagang Eropa. Papalele, dalam menjalankan tugasnya untuk tauke tidak tahu banyak tentang macroekonomi dan jarang ke Makassar. Ini digambarkan melalui wawancara dengan papalele yang masih merasakan resesi di tahun 1930-an akibat pecahnya Perang dunia.

Sementara itu, perusahaan pengekspor pun sering kehilangan informasi terpercaya mengenai kondisi lokal daerah terpencil. Swets, salah satu pekerja Belanda di Oliefabrieken Insulinde, mengatakan dalam laporannya bahwa, Agen Adelink, walaupun telah menjadi Residen di Makassar selama 25 tahun, tidak pernah mengunjungi kebun-kebun kelapa di Maluku. Ia mengatakan :

“Yang kami amati, Perhatian Mister Adelink tentang wilayah-wilayah produsen kopra hanya bersandar pada kabar angin, dan tentunya juga mengenai keadaan orang-orang di sana sehingga ia gagal mengamati kebutuhan objektivitasnya”67

Pedagang-pedagang dari Batangmata juga bersaing dengan tauke-tauke Cina dan KPM. Pedagang-pedagan ini telah kehilangan peranan penting dalam perdagangan jarak jauh sejak KPM mengumpulkan dan mendistribusikan berbagai komoditas dagang dengan kapal uap. KPM, yang memiliki rute terjadwal dan juga rute tak terjadwal, mencoba mengambil semua rute transpor rempah-rempah di Sulawesi selatan. Namun upaya ini sedikit macet apabila datang angin timur, sehingga pada saat itu, mereka terpaksa mengurangi muatan. Kesempatan ini dipergunakan para pedagang Selayar dan pedagang dari Sulawesi selatan lainnya untuk membawa kopra ke Makassar dan ke Surabaya.68

Para pedagang haji yang masih menggunakan sistem modala, mengurangi jumlah muatan lain dan memasok lebih banyak kopra serta mengembangkan sistem perdagangan yang lebih luas, misalnya memuat berbagai barang dagangan dari toko-toko di Surabaya, berlayar dengan angin barat awal ke Bali untuk memuat tembakau, mengambil kain di Selayar dan berlayar ke Maluku, lalu kembali ke Selayar dengan membawa hasil hutan dari Maluku dengan angin timur.

Membangun kembali Perdagangan kopra (1930-1950)

Pada tahun 1930-an, terjadi depresi ekonomi dunia yang disertai menurunnya produktivitas kopra akibat penyakit dan usia pohon kelapa yang sudah tua. Ini menyebabkan memburuknya perdagangan kopra di Selayar sekaligus menandai era baru perdagangan kopra di selayar70.

Setelah tahun 1929, perdagangan dunia menurun secara drastis dan makin nampak ketergantungan orang-orang Selayar pada perdagangan kopra. Mereka yang menetap di tengah pulau sebagai pekerja di kebun-kebun kelapa atau sebagai buruh kasar dalah perdagangan kopra menjadi korban pertama. Upah mereka dikurangi. Sementara itu, para pemilik kebun kelapa yang luas, menunda produksi kopra dengan harapan, harga kopra akan membaik. Produksi panen akhirnya tertunda selama bertahun-tahun.

Melambungnya harga kopra yang pernah membuat orang selayar mengkonsumsi beras impor yang mahal dan ladang-ladang yang kebanyakan telah ditanami kelapa membuat produksi pangan sulit dilakukan. Banyak orang selayar yang kemudian bertahan dengan cara lama, yakni membuat minyak kelapa dan menenun kain. Sementara itu pemerintah Belanda mencoba melakukan diversifikasi ekonomi selayar dengan menggalakan tanaman lain seperti jeruk71.

Para bangsawan tetap menguasai kepemilikan kelapa pada tahun 1930-an72. Di antara para bangsawan ini, ada yang membagikan kebun kelapa tersebut sehingga kebun-kebun kelapa akhirnya jatuh ke tangan orang-orang kaya yang stratanya lebih rendah. Papalele yang beruntung adalah, Tunru Daeng Sagala, bangsawan rendah dari Parak (masuk dalam Regency Bonea). Ia membeli kebun kelapa antara tahun 1916 sampai 1924. Statusnya sosialnya pun dianggap telah meningkat karena menyerahkan puterinya, Mariama untuk dinikahi oleh Abdul Halim, putra Opu Muhammad Daeng Malewa dari Bonea, opu yang terkaya di Selayar.

Selama dan setelah Perang Dunia II, Masariki, putra Tunru Daeng Sagala dan pedagang cina bernama Ance Poa dari Batangmata memperoleh bagian penting dari kepemilikan kebun kelapa ketika putra Malewa, Tjinrapole menjual semua kebun kelapa milik ayahnya73.

Posisi bangsawan-bangsawan ini semakin terancam ketika aktivis-aktivis Muhammadiyah mengkritik adat, terutama dalam pembayaran sunrang sebesar f 2,50 tanpa peduli status yang mana. Ini pun menyebabkan goyahnya sistem strata di Selayar74.

Pada tahun 1930-an, cina peranakan kehilangan kendali terhadap perdagangan kopra yang mulai diambil alih oleh pedagang Cina totok yang merupakan pendatang baru. Pedagang cina totok ini adalah pelarian politik dan ekonomi dari negara asal mereka akibat perang sipil antara Kuomintang dan komunis serta Perang Cina-Jepang.

Ketika terjadi depresi ekonomi banyak perusahaan cina peranakan yang jatuh bangkrut akibat dari teknik spekulasi mereka. Para Cina totok, oleh orang Selayar, digelari Ance75. Mereka datang tanpa memiliki apa-apa melalui Singapura, Medan dan Makassar. Mereka kemudian bergabung dalam perdagangan enceran dengan didanai oleh cina peranakan. Setelah memiliki sejumlah modal, mulailah mereka berbisnis dengan modal sendiri.

Cina totok yang paling sukses dalam perdagangan di Selayar adalah Oei Ek Tjoang ( Ance Beru). Ia adalah importer barang-barang toko yang paling penting di Selayar. Kekuatan posisi ekonominya membuat ia mampu membantu perusahaan dagang Cina di Makassar dan mendanai perdagangan kopra tingkat lokal pada tahun 193776.

Pada tahun 1930-an, Kwee Lim Hong tetap aktif berperan tidak langsung dalam perdagangan kopra. Nampaknya ia tidak memiliki akses pinjaman dari Makassar, bahkan bekas papalelenyalah yang membiayai pendidikan puteranya, Baba Siang di Bandung. Papalele-papalele inilah yang juga melanjutkan perdagangan kopra dengan mengirim kopra pada atasan mereka, para Cina di makassar77. Kwee Lim Hong lalu menjadi penasehat bagi bekas papalele-nya.

Setelah Baba Siang menyelesaikan pendidikannya, ia menjadi pedagang perantara dari Selayar ke Makassar. Saat itu gap antara level perdagangan kopra mikrp dan makro semakin tajam.

Beberapa cina totok juga terlibat langsung dalam perdagangan kopra. Mereka tinggal menyebar sepanjang pesisir barat dengan mengimpor kain dan menampung kopra. Di daerah-daerah ini terjadi kompetisi yang sehat.

Dua cina totok, Ance Tonga ( Loe Boen Thoeng) dan Ance Poa (Ho Ke Po) yang memiliki hubungan kerabat jauh, bahkan tinggal di Batangmata, yang merupakan daerah basis kekuatan pedagang haji79. Sementara itu di Benteng, menetap saudara dari Go Ke Hong ( meninggal tahun 1930), yakni Ance Honga ( Go Ke Ho) yang bersama sepupu Ance Poa melanjutkan kerja sama dengan Baka Oto.

Harga kopra tidak menunjukkan perkembangan yang berarti selama tahun 1930-an seiring munculnya industri minyak yang besar, Unilever, sebagaimana yang digambarkan oleh Brookfield:

“Bisnis kopra seketika mengalami ketergantungan pada organisasi tunggal, unilever yang merancang pengembangan teknis dalam menggabungkan jenis minyak yang berbeda dari berbagai lemak untuk menekan pembelian dan efisiensi harga produksi82. Faktor penting yang lain adalah pembatasan perdagangan di eropa dan Amerika Serikat yang mencoba mencegah ekspor kopra dari Negara sekutu mereka”83.

Posisi perdagangan kopra yang berbahaya bagi penduduk setempat pada tahun 1930-an ini membuat Pemerintah Belanda tidak sanggup mengembangkan perdagangan kopra di Indonesia Timur walaupun melalui penerapan sentralisasi dan sistem regulasi pembelian.

Pecahnya Perang dunia II kemudian menyebabkan kondisi ini menyebar lebih luas. Pada tahun 1940, ketika tidak mungkin dilakukan ekspor ke Eropa, sebuah pembeli bernama Coprafound muncul. Coprafound mengatur pembelian dan penyimpanan kopra, melakukan standarisasi kualitas dan pengepakan, serta menerbitkan harga kopra secara berkala kepada produsen. Pemerintah Belanda akhirnya memiliki sebuah instrumen untuk mengontrol dan meningkatkan kualitas kopra sesuai keinginan mereka.

Setelah kehancuran akibat pendudukan Jepang antara tahun 1942 sampai 1945, semua kopra yang berasal dari Selayar harus diekspor ke Makassar dan dijamin dengan harga yang stabil. Namun setelah perang, perahu-perahu dari Batangmata dan daratan Sulawesi mulai menyelundupkan kopra ke Surabaya dan ke Singapura karena di kota-kota ini, harga kopra sering lebih tinggi. Di samping itu, coprafound tidak sanggup mengangkut semua kopra yang terkumpul akibat kurangnya kapal uap pasca perang sehingga kopra harus disimpan selama berbulan-bulan di Selayar.

Tidak hanya pemerintah Belanda yang memperkuat peranannya dalam perdagangan kopra setelah masuknya Coprafound, tetapi penduduk setempat di Sulawesi selatan pun menguatkan posisi mereka, saat Coprafound berusaha melemahkan posisi pedagang kopa Cina. Kondisi yang tidak aman akibat pergerakan kemerdekaan memaksa pedagang cina untuk mengalah dan membatasi aktivitas dagang kopra mereka dan beralih menjadi peminjam modal bagi pedagang setempat.

Munculnya Coprafound kemudian membuat penduduk setempat juga tidak bisa menjembatani celah (gap) antara perdagangan Selayar dan Makassar. Mereka akhirnya menempuh cara lain. Papalele Selayar bernama Lihing, misalnya membangun hubungan dekat dengan saudaranya, Muluk sebagai perwakilan di Makassar. Hubungan yang sama dulakukan pedagang kopra asal Mandar, Haji Abdoe Mas’oed Daoed, dengan puteranya yang pulang pergi dari Makassar ke daerah asal mereka, Campalagiang.

Kesimpulan

Sejarah sosio-ekonomi kolonial di Indonesia masih didominasi prespektif eropasentris. Perhatian para sejarahwan masih sering mengikuti perkembangan ekonomi yang dituntun oleh orang-orang Eropa sehingga untuk perdaganghan kelapa dimana orang-orang Eropa tidak banya terlibat, relatif belum dikenal dan hanya digambarkan secara klise sesuasi dengan persepsi Negara-negara kolonial. Hal ini terjadi karena orang-orang Eropa merasa frustasi sebab tidak sanggup mengemabangkan tanaman kelapa menjadi tanaman yang sukses, sementara penduduk setempat dapat mengeksploitasi tanaman ini dan mendapatkan keuntungan yang besar.

Dalam perdagangan kopra, orang-orang Eropa harus bekerja sama dengan orang cina sebagai pedagang perantara, karena pedagang-pedagan cinalah yang mampu mengembangkan jaringan dagang yang luas dan memiliki eksistensi yang bahkan bisa menghalangi orang-orang eropa.

Sebelum periode kopra, perdagangan kelapa susah dimonopoli sampai ketika pedagang haji di Batangmata dan pedagang cina di Padang berkonsentrasi pada perdagangan barang-barang mewah.

Kebangsawanan sangat diuntungkan oleh proses simultan dari eksistensi dan akumulasi perkebunan kelapa, dimana mereka memperkuat hubungan kerja sama perkawanan selama masa-masa booming kelapa dengan mengontrol produksi kelapa, tanaman yang sangat penting bagi status sosial orang selayar.

Ketika kopra menjadi komoditas ekspor, perdagangan kopra terintegrasi secara kuat ke dalam pasar dunia, dan berhasil memimpin terciptanya hirarki komersil terhadap spesialisasi etnik. Ditambah lagi dengan digemarinya kelapa di seluruh dunia, sehingga ini tidak menimbulkan hubungan “mangsa-predator” dalam perdaganngan, tetapi dapat dinikmati oleh level bawah.

Posisi kebangsawanan tidak betul-betul berpengaruh pada periode pertama perdagangan kopra dan beberapa orang bisa sukses sebagai papalele dalam perdagangan kopra. Kebencian melemah ketika semua orang diuntungkan oleh perdagangan kopra, namun berkembangnya kelapa menjadi tanaman tunggal juga merupakan bom waktu. Sementara Pedagang cina di Selayar, walaupun menjadi kaya karena berhasil mengontrol ekspor kopra namun pada umumnya tidak terlibat dalam kepemilikan.

Depresi pada tahun 1930-an di Selayar pun menandai era baru perdagangan kopra. Perdagangan kelapa di Selayar terpecah-pecah. Sebelumnya didominasi oleh cina peranakan, akhirnya digantikan oleh cina totok pendatang baru. Posisi para bangsawan lalu diserang oleh reformis-reformis islam.

Meningkatnya kekuatan kalangan biasa dipicu oleh terjadinya disintegrasi monopoli cina peranakan. Muncul kemudian Coprafound yang memutus hubungan mereka dengan Makassar. Coprafound yang merupakan badan kepercayaan Unilever ini akhirnya membuat orang Eropa mampu mengontrol perdagangan kelapa yang tidak bisa dilakukan sebelumnya.

(Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari jurnal : Selayar and The green gold, The development of the coconut trade on an Indonesian Island (1820-1950)

Oleh : Christiaan Heersink, Alih bahasa : Andi Amrang Amir

Penerbit : Cambridge University Press 1994

Senin, 24 Agustus 2009

BELAJAR DARI MANIPULASI SEJARAH BAJAK LAUT KARIBIA


Ada dua informasi tentang Barbarossa yang pernah saya ketahui. Yang pertama saat membaca buku : Khairuddin Barbarossa, Bajak Laut Atau Mujahidin? yang ditulis oleh Alwi Alatas. Dan yang kedua ketika menonton film The Pirates Of Carribean.

Pada pembukaan bukunya, Alwi memaparkan bahwa tokoh Barbarossa pernah ditampilkan dalam Komik Asterix sebagai tokoh antagonis, yakni seorang bajak laut tua yang bodoh dan licik. Gambaran tentang Barbarossa ini juga kurang lebih sama di dalam film The Pirates Of Carribean. Ia adalah lawan dari Kapten Jack Sparrow dimana barbarossa digambarkan memilki ilmu sihir, serakah dan tidak mempan mati.

Siapa itu Barbarossa? Alwi Alatas mengatakan bahwa dalam catatan sejarah, ada tiga tokoh yang diberi gelar Barbarossa. Barbarossa sendiri berarti =Si Jenggot Merah. Tokoh yang pertama adalah Frederick Barbarossa, Raja Jerman. Nama Operasi Barbarossa pernah dipakai Hitler saat menginvasi Rusia dalam Perang Dunia II. Tokoh yang kedua Adalah Aruj Barbarossa, dan yang ketiga adalah, Khairuddin Barbarossa. Aruj dan Khairuddin adalah kakak beradik. Dua-duanya adalah panglima Turki yang pernah menguasai Laut Mediterania dan amat ditakuti oleh pelaut-pelaut Eropa.

Aruj dan Khairuddin adalah dua bersaudara pemimpin perang laut yang pernah umat muslim Andalusia untuk diseberangkan ke Afrika Utara di kala Negeri Matador Muslim itu diserang oleh tentara Aragon-Catilla dari utara. Khairuddin bahkan sempat mengalami beberapa kali perang laut dengan Laksamana Andrea Doria dari italia. Dalam perang di Teluk Preveza, Doria mengalami kekalahan.

Namun peristiwa ini tidak banyak disinggung oleh para sejarahwan orientalis, sebab tentunya akan memalukan sejarah angkatan laut Eropa. Maka dilakukanlah pengaburan sejarah dengan maksud menenggelamkan ketokohan Barbarossa bersaudara antala lain melalui komik dan film.

Di Majalah Angkasa, Edisi khusus: Perang laut Yang Menentukan, pun para panglima Turki ini tidak pernah ditampilkan sebagai laksamana-laksamana yang pernah memenangkan perang laut. Hanya ada beberapa baris yang menukil sedikit tentang Khairuddin Barbarossa. Ini pun hanya dengan menulis nama khair el din sehingga para pembaca banyak yang tidak tahu bahwa Khair el din sebenarnya adalah Khairuddin Barbarossa, pelaut tangguh yang telah dimatikan karakternya sebatas bajak laut yang jahat.

Belajar dari kasus ini, saya ingin menekankan bahwa kerabunan dan kebutaan generasi muda muslim akan sejarah, sungguh bisa berakibat fatal karena hal ini akan membuat kita kehilangan jati diri, inferior dan menerima begitu saja segala cekokan cerita fiksi dari barat dengan segala bumbu teknologi dan kemasan percintaan ala Hollywoodnya. Padahal kemajuan teknologi barat hendaknya jangan sampai mendungukan kita untuk menelusuri sejarah yang sebenarnya tentang para pendahulu kita.

Masih banyak kisah pelaut muslim yang mengagumkan seperti kisah perjalanan Ibnu batutah dan Laksamana Muhammad cheng Ho, para pelaut yang tidak kalah dengan Marcopolo, Colombus dan Ferdinand magelland. Pelaut abdul majid, navigator yang dijuluki “Singa laut abad 15”, yang membantu Vasco da Gama menemukan jalur rempah-rempah ke timur.

Dari catatan pengembaraan laut pula kita mewarisi kata admiral (bahasa Inggris yang berarti laksamana). Kata ini berasal dari kata amir al bahr dalam bahasa Arab, serta kata muallim yang berarti navigator.

Sementara dari dalam negeri, ada Fatahillah yang berhasil menaklukkan Angkatan Laut Portugis, Kisah pengembaraan Syeh Yusuf Al-Makassari ke Madagaskar. Sebelum itu ada Laksamana Nala yang membantu mahapatih gajah mada menyatukan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara, wilayah yang hampir sama luasnya dengan Eropa Barat, dam bagaimana Husin Daeng Rangka, pelaut Makassar yang telah mendahului Kapten James Cook menemukan Benua Australia.

Masalah Penemuan wilayah ini pun menurut saya sesuatu yang amat belum bisa diterima. Kalau penduduk Indian sudah mendiami Amerika selama berabad-abad yang lalu, mengapa pula kita mengamini begitu saja kalau penemu Benua Amerika adalah Colombus? Dan ada pual buku yang membantah bahwa penemu benua amerika adalah Cheng Ho. Bukankah yang benar: Penemu benua Amerika adalah orang Indian? Dan penemu Benua Australia adalah orang Aborigin, bukan kapten Cook.

Mungkin benar apa kata Edward Johnston (ITC, 1990) bahwa, orang yang tidak tahu sejarah, berarti tidak tahu apa-apa. Budayawan Abdul Hadi juga berkata bahwa, jika sebuah bangsa tidak menulis sejarahnya, maka bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang hilang dari peradaban dunia dan tentunya, akan menjadi bangsa yang dilupakan. Inilah yang terjadi pada suku Indian di Amerika dan aborigin di Australia.

Bagaimana dengan Selayar? Sudah seberapa banyak yang kita tahu dan kita tulis tentang Selayar? Sudikah kita jika suatu saat ada bangsa lain yang datang belakangan menulis bahwa, nenek moyangnya adalah penemu Selayar, padahal nenek moyang kita sudah karatan di sini jauh sebelum nenek moyang mereka lahir? Dan kalau tiba waktu itu, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak dari sekarang menulis sejarah, karena data otentik yang dipercayai oleh dunia adalah data tertulis, sebagaimana pengesahan kelulusan sekolah adalah ijazah tertulis, dan Wahyu Tuhan yang oleh Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk ditulis dalam lembaran-lembaran mushaf, yang di kemudian hari dibukukan dalam sebuah kitab bernama Al-Qur’an.

Maka dari itu, mari kita belajar sejarah, belajar dari sejarah dan mulai menulis . Karena kita tidak akan bisa menunggu sampai orang barat datang menuliskan sejarah kita. Pun kalau mereka yang menulis sejarah kita, maka alur historis akan ditelikung dan dimanipulasi sesuai kepentingan mereka. Bukankah kita sudah merasakan sendiri bahwa untuk mempelajari sejarah Selayar pun, kita harus bersandar pada literatur yang ditulis Sejarahwan Eropa yang tentunya tidak lepas dari kesan eropasentris?

Ayo anak Selayar, urang-urangku ngaseng, tulislah sejarahmu..

PA’BUAKIANG

Di pulau yang membentang utara-Selatan 100 kilometer dan lebar kurang lebih 30 kilometer ini, angin barat dan angin timur dari laut, bisa menembus ke tengah-tengah pulau, mendaki Gunung Bontoharu dan menghitamkan kulit-kulit kami. Tapi kalau langit sedang cerah dan udara tenang, suara jo’ong dan pui-pui dari seberang bukit pun akan terdengar jelas.

Bersiap-siaplah kita pagi ini dengan baju, celana dan sendal terbaru. Rambut dilumuri dengan minyak kemiri dan disisir klimis. Hari pa’buakiang (pesta) adalah hari yang indah. Mungkin sama indahnya dengan hari raya. Ada banyak daging karena ampunna bua’ (yang punya hajatan) menyembelih dua ekor kerbau. Jangan lagi ditanya kalau masalah kanre jaha (kue-kue).

O,ya kalau bicara masalah terminologi atau asal kata penamaan kanre jaha, boleh kita menarik hipotesis bahwa mungkin saja orang selayar memberi nama sesuatu yang tidak ada di daerahnya sesuai dengan nama suku-bangsa pembawa “benda” tersebut. Taruhlah kue dinamakan kanre jaha ( arti harfiahnya = makanan orang jawa), karena barangkali kue atau kudapan manis diperkenalkan pertama kali oleh Orang Jawa yang datang ke Selayar tempo dulu. Kata lain seperti attolong jaha (duduknya orang jawa) istilah yang dipakai untuk duduk bersila, pun mungkin diperkenalkan oleh orang jawa. Sementara itu istilah lain seperti rompo’ japa’ang ( rumput jepang) untuk tali rafia, dan talle japa’ang (loyan jepang ) untuk loyan dari logam, pun barangkali memiliki sejarah kelahiran yang kurang lebih sama, yakni diperkenalkan oleh orang Jepang.

Undangan

Kita kembali ke pa’buakiang. Hajatan ini bakal ramai karena dua mempelai berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Keluarga mereka bertebaran di seluruh Nusantara. Saat saudara mereka di Selayar menikahkan anaknya, biasanya mereka balik dari perantauan atau paling tidak, mengirim perwakilan.

Namun ternyata ada juga yang tidak datang walaupun terbilang keluarga dekat dengan yang punya hajatan. Bukan karena tidak sempat, tetapi kadang karena persoalan “harga diri”. Asal tahu saja bahwa di kampung kami, cekcok dan permusuhan dengan saudara kandung sendiri bukan hal yang langka ditemui. Konflik tanah warisan boleh jadi penyebabnya. Menyeret saudara kandung ke meja hijau bukan perkara baru. Malahan ada yang tidak segan-segan memasukkan saudaranya di hotel prodeo alias bui.

Masing-masing pihak merasa benar. Maka mengundang saudara untuk hajatan atau mendatangi saudara yang punya hajatan, sama saja berdamai dengan orang salah, dan ini berarti meruntuhkan “harga diri” sendiri. Yang punya hajatan merasa tak butuh kedatangan saudaranya, sementara sang saudara yang menolak datang, kalau ditanya, mengapa tak datang padahal ponakannya menikah, ia menjawab sambil mencibir: Tak sudi aku! Kalau mau makan kerbau atau sapi, kan bisa beli di pasar…

Tapi percayalah bahwa tidak semua orang selayar memiliki tabiat negatif seperti itu. Karena memerangi bangsa sendiri bukankah sudah menjadi tabiat bangsa Indonesia? Dan masih jauh lebih banyak orang Selayar yang baik-baik.

Ada juga yang menolak datang walaupun sudah diundang karena “merasa tidak diundang”. Ini juga masalah harga diri. Apa pasalnya? Merasa masih keturunan opu anu, entah benaran entah cuma mengaku-ngaku, yang jelas ia tak mau datang sebab cara mengundangnya tidak disesuaikan dengan derajatnya. Istilah kerennya: nggak level dengan cara gituan. Ia tidak terima jika hanya diberi undangan kertas walaupun namanya sudah ditera besar-besar di atas amplop. Ia baru merasa diundang kalau ada sepasang atau dua pasang laki-perempuan berkopiah, berjas, berkebaya dan bersarung yang datang bersila atau bersimpuh sembari berkata, Ini kami datang kemari atas nama saudara kita yang akan menikahkan anaknya, untuk mengundang opu. Hari sabtu kerbaunya di sembelih. Hari minggu acara intinya. Singkatnya, Sang Opu baru merasa dihormati jika diundang secara lisan. Tak sudi diundang tulisan. Di samping masalah adat dan harga diri, mungkin saja karena Si Opu ini , buta huruf…

Kalau dibilang terlalu feodal, ini pun sekedar gambaran tradisi masa lalu, yang mungkin masih dipertahankan oleh segelintir orang dan makin luntur seiring datangnya modernisasi dan westernisasi.

Ammarenta

Dua malam yang lalu, Ammak bermalam di rumahnya yang punya hajatan. Membantu yang punya hajatan menapis beras dan memasak. Acara persiapan ini dinamakan ammarenta. Biasanya beberapa hari sebelum hari H, rumah yang punya hajatan sudah diwarnai kesibukan. Yang paling pokok adalah kesibukan mempersiapkan makanan. Pesta perkawinan di Selayar adalah prosesi sakral yang juga merupakan acara makan besar dan menjadi simbol gengsi bagi yang punya acara, sehingga demi suksesnya acara ini tak jarang yang punya hajatan tidak segan-segan menaggung utang.

Rumah empunya pesta ditambahi dengan bangunan tenda ke samping, ke belakang atau ke depan. Yang ke belakang atau ke samping adalah dapur, sedang yang ke samping atau ke depan biasanya diperuntukkan bagi tamu undangan.

Mari kita tilik ke dapur. Di dalamnya, perempuan-perempuan yang sedang ammarenta berleleran air mata dan ingus di depan tungku kayu. Bukan karena terharu sebab saudaranya atau orang sekampungnya sudah akan melepas masa lajangnya, tetapi karena matanya kepedihan asap. Ada juga yang duduk melingkar, memotong-motong sayur atau menumbuk bumbu. Inilah pekerjaan yang paling mereka nikmati. Sebab sambil bekerja itu, mereka bisa bergosip ria. Di acara ammarenta itulah kelakuan Si Baso ( kata ganti untuk anak laki-laki) dan Si Basse (kata ganti untuk anak perempuan) dipergunjingkan dengan riuh dan asyiknyanya. Acara ammarenta seketika menjadi pusat informasi, sekaligus pusat spekulasi dan analisis, tentunya versi ibu-ibu.

Di tempat lain, laki-laki sibuk membelah kayu bakar dengan kapak, memikul air dari sumur menanjaki bukit-bukit dengan simbah peluh, memasang janur kuning, atau segala pekerjaan yang lebih melibatkan otot. Setelah itu mereka duduk santai di atas kursi plastik berjejer, main domino, atau ngobrol panjang lebar tentang ladang, tanaman, anak istri dan keponakan sambil berkelakar menghirup kopi dan mengepulkan asap rokok. Sepertinya laki-laki memang lebih senang berkelakar ketimbang bergosip.

Attaraluk

Semalam ada acara attaraluk. Sepasang mempelai duduk berdampingan di atas ranjang di ruang tengah. Didupa-dupai mereka, diasapi dengan kemenyan, dan dibaca-bacai oleh guru masa ( tukang baca doa) atau pemuka kampung. Sesekali segenggam beras disimbahkan ke kepala mereka . Acara ini merupakan salah satu rangkaian prosesi pernikahan adat Selayar. Laki-perempuan, tua-muda dan anak-anak datang mengerubuni calon mempelai, ikut menyimbahi mereka dengan bulir jagung. Tapi penonton ini kadang kacau. Maksud semula menyimbahi calon mempelai, tetapi biasanya yang berkembang adalah, penonton yang saling melempari, mirip tawuran massal penonton konser musik atau supporter fanatik Liga Indonesia. Sambil melempari, mereka kejar-kejaran dan ketawa-ketawa.

Kalau amat-amati, acara ini ada miripnya dengan sebuah prosesi pernikahan dalam film India. Bedanya, “attaraluk india pakai tarian dan nyanyian, sementara attaraluk Selayar cuma diiringi instrumen musik tradisional seperti pui-pui (alat musik tiup dari tembaga), jo’ong (gong) dan ganrang (gendang).

Alat Musik Pengiring

Mari kuceritakan mengenai kelompok musik pengiring acara pernikahan ini. Kelompok musik ini adalah pemain musik bayaran yang telah dipersiapkan khusus untuk acara pernikahan . Biasanya mereka mengambil posisi di tambing (beranda rumah) atau dibuatkan tempat khusus di pintu gerbang masuk. Mereka terdiri dari empat orang pria berkopiah, berjas dan bersarung. Dua orang penabuh ganrang (paganrang), Satu orang peniup pui-pui (papui-pui) dan yang terakhir pemukul jo’ong (pajo’ong). Sebelum dimainkan, alat musik mereka didupa-dupai terlebih dahulu.

Dua paganrang meletakkan alat musiknya di pangkuan. Alat musik ganrang ini mirip bedug berukuran kecil dengan diameter kira-kira 30 sentimeter. Dua bagian sisi ditutupi kulit sehingga bisa ditabuh kedua sisinya. Namun hanya satu sisi yang ditabuh dengan stick yang terbuat dari kayu. Sisi yang lain dikeplak dengan telapak tangan. Maka bunyi yang dihasilkan kurang lebih begini : Tok! Tok! Plak! Tok! Tok! Plak!

Di sebelahnya adalah pajo’ong (pemukul gong). Gong yang dimainkan memiliki diameter kurang lebih 40 cm. Jo’ong diikat dengan tali dan digantung ke langit-langit rumah. Nampaknya pekerjaan menjadi pajo’ong ini adalah pekerjaan paling gampang (ini menurut persepsiku), karena Pajo’ong cuma sekali-sekali saja menghantamkan stick kayunya ke permukaan jo’ong. Saking gampangnya pekerjaan ini, kadang pajo’ong memejamkan mata lama sekali. Entah karena ngantuk, entah menikmati. Yang jelas, ia seperti memainkan jo’ong-nya sambil bermimpi.

Yang terakhir adalah papui-pui (peniup pui-pui). Inilah yang menurutku pekerjaan yang paling berat dan rumit. Berat, karena ia hanya menggunakan kekuatan hembusan nafasnya untuk meniup pui-pui gallang atau pui-pui tembaganya. Rumit, karena rasanya amat susah membayangkan bagaimana papui-pui bisa meniup alat musik sebesar betis orang dewasa itu selama berja-jam tanpa henti. Bagaimana mengatur nafasnya agar bunyi pui-pui tidak terputus, sembari mengatur melodi pui-pui melalui tiga buah tuts yang dimainkan dengan tindisan jari. Irama pui-pui inilah yang menentukan tempo permainan, apakah dipercepat atau diperlambat.

Sepanjang memainkan pui-pui, pipi paui-pui mengembang dan mengempis seperti balon kecil, tetapi lebih lama mengembangnya. Mungkin di dalam pipinya itu ia menyimpan semacam cadangan nafas sehingga bunyi pui-pui tak pernah putus. Matanya merem-melek, bahkan tak jarang melotot. Dan kalau melotot, papui-pui terlihat lucu sekaligus menyeramkan. Biji matanya seakan hendak meloncat keluar. Dilihat sekilas, papui-pui nampak seperti pawang ular kobra India.

Selain mengiringi prosesi attaraluk, instrument ini dipakai pula untuk menyambut tamu yang datang pada hari H. Perlu diketahui bahwa pengaturan tempo, ritme dan harmonisasi tiga buah alat musik ini tidak sembarangan. Kiranya para instrumentalis ini adalah para pemusik yang jeli melihat keadaan pesta. Ada yang namanya tunrung pamanca’, yakni tempo permainan dipercepat yang terkesan bergembira. Biasanya dilakukan sekali-kali untuk refreshing, atau menjelang dan sesudah prosesi attaraluk.

Ada tunrung bilang. Ini semacam tempo permainan resmi pada hari H untuk menyambut tamu . Namun tunrung bilang tidak sembarang dimainkan. Ini tergantung keadaan pesta. Jika misalnya yang punya hajatan tidak melayani tamu dengan baik. Taruhlah makanannya terlambat disajikan atau kurang sedap di lidah tamu, maka alih-alih mendengar tunrung bilang. Yang ada hanya tunrung yang terdengar serampangan. Tunrung bilang sendiri berasal dari kata, tunrung = tabuhan, dan bilang= terhitung, artinya tabuhan terhitung, dimana komparasi bunyi ganrang, jo’ong dan pui-pui hanya sesekali terdengar. Artinya ada waktu jedah dimana yang tersengar hanya bunyi ganrang dan pui-pui.

Tetapi jika terdengar bunyi jo’ong berkali-kali mengiringi ganrang dan pui-pui, maka itu bukan tunrung bilang. Boleh jadi ini adalah tunrung serampangan asal jadi yang kedengaran seperti mengejek yang punya hajatan. Ada yang berseloroh dan menamakan tunrung serampangan ini dengan istilah tunrung bakkak tumbung, karena bunyinya memang seolah-olah terdengar seperti seseorang mengucap kata : bak-kak-tum-bung bak-kak-tum-bung berkali-kali. Kalau diartikan, bakkak = besar, tumbung = ambeien. Dan jika digabungkan, tunrung bakkak tumbung berarti tabuhan untuk “Si Ambeien besar”. Kedengarannya mungkin lucu. Tetapi seperti inilah yang terjadi. Bunyi instrumen yang terdengar merupakan sederet harmonisasi yang menggambarkan keadaan pesta..

Pesta kali ini adalah pesta pernikahan. Maka pintu pagar dihiasi dengan janur kuning dan aneka jumbai berwarna-warni di mana-mana. Pesta dilaksanakan di dua tempat. Di rumah mempelai wanita dan di rumah mempelai pria. Tetapi biasanya rumah mempelai wanitalah yang lebih ramai, karena di rumah mempelai wanita pelaminan dipasang dan instrument musik dimainkan.

Pelaminan (lamming) dipasang di ruang tengah. Lamming dibangun dari tirai bambu berhiaskan janur kuning dan jumbai-jumbai kain yang bertahtahkan pernak-pernik mengkilap. Di dalamnya ada sofa, tempat duduk kedua mempelai menyambut tamu. Di kiri-kanan mempelai ada sepasang - dua pasang passappi’ ( pendamping) . Passappi’ mempelai wanita biasanya anak wanita yang diberi busana mirip mempelai wanita, demikian juga dengan anak laki-laki yang menjadi passappi’ mempelai pria.

Sekali waktu, ketika masih bocah, pernah juga aku menjadi passappi’. Pekerjaan menjadi passappi’ ini kelihatan gampang-gampang saja. Cuma duduk-duduk, sesekali berdiri dan bersalaman dengan tamu undangan. Namun mungkin karena monotonnya pekerjaan ini, maka satu-dua jam masih betah, tetapi lebih dari itu adalah, bete! Ini pekerjaan menjenuhkan nian. Betapa iri rasanya melihat teman-teman seusiaku bermain dengan bebas di luar sana, sementara aku sendiri terkurung di dalam lamming. Kadang telingaku dibikin panas bila ada yang datang mengolok-olok. Dijodoh-jodohkannya aku dengan passappi’ wanita. Rasanya malu sekali. Ya, memang di masa kecilku istilah pacaran atau accewek-cewek, adalah istilah tabu. Bisa timbul perkelahian jika ada yang dijodoh-jodohkan. Tak tahu bagaimana dengan anak-anak zaman sekarang.

Kalau hari cerah, angin tak berhembus dan cuaca panas, maka kedua mempelai ikut kepanasan di dalam lamming. Gerah cuaca dilawan dengan kipas angin atau kipas kibas yang digerakkan manual dengan tangan. Make up pengantin wanita meleleh. Jidatnya mengkilap. Senyam-senyum menyambut tamu. Nampaknya bahagia nian. Di sebelahnya mempelai laki-laki pun terlihat tenang-tenang saja. Amat bahagia lebih tepatnya. Walaupun tadi, sewaktu akad nikah, sempat meluncur keringat dinginnya sebesar bulir jagung lantaran demam panggung dan hampir tak kuasa mengucap lafaz ijab Kabul hingga terpaksa diulang beberapa kali.

Bahagia jika kasusnya adalah pernikahan suka sama suka, direstui kedua belah pihak dan tak ada paksaan satu sama lain. Lain lagi ceritanya dengan kasus perjodohan paksa atau pernikahan paksa yang banyak terjadi di zaman dulu-dulu. Yang merestui hanya keluarga, tetapi sepasang mempelai sendiri tidak saling mencintai. Maka tak ada keceriaan di dalam lamming. Yang ada hanya saling tak acuh dan kesenduan sepanjang waktu. Walaupun cuaca hujan, tetapi make up luntur jua. Bukan karena keringatan, tetapi karena disimbahi air mata. Apalagi jika kemudian sang pacar datang menyalami, menyerahkan kado sembari melantunkan lagu Caca Handika atau Ona Sutra. Ai…Ai, betapa menyedihkannya kisah percintaan sedemikian itu.

Namun bagiku, prosesi attaraluk, bunyi keplak ganrang, dentuman jo’ong dan buaian irama pui-pui yang mengalun tenang dan kadang seperti menyayat relung-relung hati itu, membuat aku selalu rindu dengan kampung halamanku, Selayar. Ada sensasi yang luar biasa di sana. Ia menggumpal dengan masa lalu, hingga bebunyian itu serasa mengalir di dalam darahku.

Seketika aku merasa berada dalam sebuah perpaduan budaya yang begitu runut dan kreatif. Jagung menandakan bahwa Selayar pun memiliki budaya agraris, walaupun sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut dan gugusan pulau. Dupa adalah sisa budaya animisme ketimuran. Ganrang mungkin diimpor dari Arab. Jo’ong dari Cina dan pui-pui dari India.

Sayangnya, sekarang ini pesta perkawinan di selayar sudah lebih banyak dimeriahkan oleh acara orkes dangdutan. Mungkin pula kelak orang-orang selayar lambat laun akan mengikuti budaya “orang kota”, menyelenggarakan pesta perkawinan di dalam gedung. Maka hilanglah lamming tirai bambu dengan segala kesederhanaan dan keunikannya. Hilang pula tomarenta karena ampunna bua’ lebih berpikir praktis dengan menyewa koki atau mendatangkan catering. Mungkin yang ada tinggal kenangan, seperti judul sebuah lagu. Itu pun kalau ada yang mau mengenang.

Orang-orang Apron


Dari jauh itu hanya sebuah titik hitam di atas garis horizon, garis persekutuan langit dan bumi. Titik itu makin lama makin besar dan bergerak kian mendekat beserta gemuruh membahana memecah cakrawala. Ia berubah warna menjadi putih, merah dan jingga, menjadi dua belas warna prisma, mencolok penglihatan.

Ia bergerak ke landasan dan Coss! Roda-rodanya mencium bumi meninggalkan semacam asap akibat gesekan karet ban dan aspal landasan. Ia melaju kencang dan secara perlahan mulai mengurangi kecepatannya. Sesaat kemudian ia memutar di ujung landasan dan berbelok masuk ke apron dengan dengung raksasa hendak memecahkan gendang-gendang telinga.

Marshaller ambil posisi dengan sepasang tongkat bercahaya merah di tangan, memberi aba-aba kepada kapten pesawat untuk memarkir pesawatnya pada titik yang tepat. Mobil derek dengan kereta-kereta kosong pengangkut barang berdatangan. Porter-porter dengan seragam biru tua kumal membuka pintu kargo di perut pesawat. Barang-barang dikeluarkan dan ditumpuk di dalam kereta, selanjutnya diderek keruang tunggu.

Mekanik dengan seragam putih biru menarik tangga ke bawah sayap pesawat. Panel fuel dibuka. Mobil pertamina aviation datang dan pesawat di-refueling. Ada yang jongkok di samping engine. Acces panel door dibuka. Engine yang kurang oli diisi. Landing gear diperiksa. Jika kikisannya tidak bisa ditoleransi lagi, baiknya diganti.

Pintu pesawat dibuka dan tangga didorong menghampiri pintu yang terbuka. Terlihat tangan mulus pramugari membuka pintu. Para penumpang berjalan menuruni tangga. Mereka menjinjing tas berisi buah tangan dari kota asal untuk mereka di kota tujuan.

Orang-orang operasi berlarian memegang handy talki. Berbicara dan berhenti. Memberi kesempatan berbicara pada orang di seberang sana, lalu membisikkan sesuatu ke telinga teknisi atau dari jauh memberi isyarat dengan bilangan jari. Sebanyak itulah fuel yang akan diisi ke tangki pesawat.

Datanglah pula mobil truk bertuliskan “Water service lavatory”. Memasukkan pipa-pipa besar ke badan pesawat. Kiranya ini adalah mobil penyedot tinja dan kotoran manusia yang dibuang di toilet pesawat. Kotoran-kotoran yang telah diproses secara kimiawi itu menjadi cairan berwarna biru yang kadang meleleri badan pesawat jika pipanya bocor.

Ada lagi mobil kanvas bertuliskan “Jasa boga penerbangan”. Kontainernya terangkat menuju pintu pesawat. Ada petugas yang memindahkan kotak-kotak aluminium ke dalam pesawat yang ditadah oleh pramugari cantik. Kalau yang tadi adalah “pengeluaran”, maka yang ini adalah “pemasukan”. Yang tadi adalah mobil penyedot kotoran, sedangkan yang ini adalah mobil pemasok makanan, yang sebenarnya adalah calon tinja juga.

Pilot dan pramugari yang telah menyelesaikan penerbangannya turun dari pesawat dan berjalan beriringan diikuti pandangan-pandangan jalang. Mereka mungkin pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat, ke istri, ke suami, ke orang tua, ke pacar, atau barangkali ke hotel. Dan kalau menyebut hotel, pikiran kita bisa jadi tiba-tiba error.

Datang kini mobil towbar, menuntun pesawat, menderek pesawat ke taxiway sesuai petunjuk petugas tower. Kini dengan pilot, pramugari dan penumpanmg baru. Semua ingin sampai di tujuan dengan selamat, walau terkadang takdir berbicara lain. Pesawat bergemuruh, melaju di runway, mendongakkan hidung dan terlepas dari bumi, mengudara dengan angkuhnya, makin lama makin kecil kembali menjadi titik hitam dan lenyap di cakrawala, menuju ketidakpastian.

Pesawat lain datang. Orang-orang di apron pun sibuk lagi.

OPU TA’GARANG

Esei

OPU TA’GARANG

Sudah tua laki-laki itu. Kalau berjalan harus disanggah dengan tongkat. Namun dapat ditaksir bahwa di masa mudanya, ia tidak begitu percaya diri mengandalkan otot semata untuk berhadapan dengan musuh. Karena sampai kini, di pinggangnya masih ada tergantung parang atau terselip badik. Tentu bukan untuk bertani, menebas ilalang atau menebang pohon, tetapi untuk berjaga-jaga dari incaran “musuh”. Musuh siapa, tidak jelas. Atau barangkali ini tidak lebih hanya sebuah nostalgia dengan kejayaan di masa lalu.

Kumisnya masih dibikin tumbuh melintang seolah-olah ingin mengatakan pada orang, “lihat, betapa masih sangarnya tampangku”, walaupun orang tentu tidak akan serta-merta takut dengan kumisnya yang sudah memutih karena uban itu. Alih-alih kelihatan seperti jawara. Ia malah Lebih mirip kambing tua yang dagingnya sudah kelewat alot untuk dijadikan hewan kurban- kambing yang menunggu mati digerogoti penyakit atau diterkam anjing kelaparan.

Jadi apa yang tersisa padanya kini tinggal kesan semata. Kesan yang dibuat-buat. Sebab jangankan orang dewasa, karena bahkan boleh dikata, bayi pun tidak akan takut padanya. Coba saja ditarik tongkatnya itu. Pasti dia akan jatuh bergedebum tak bisa bangun-bangun. Syukur-syukur kalau masih bisa merangkak. Mata rabunnya pun tidak akan bisa mengenalimu lagi.

Orang-orang tidak mengganggunya bukan karena takut atau segan, tetapi lebih karena kasihan. Ada yang berceloteh bahwa bisa saja gayanya itu dibuat-buat lemah, agar bekas-bekas musuhnya tidak tega menyakitinya. Coba saja selidiki kekuatannya kalau pas ia jalan lewat kuburan di ujung kampung sana. Amat disangsikan kalau ia tidak akan cabut sendal dan ambil langkah seribu dengan gagahnya.

Orang-orang memanggilnya dengan tambahan gelar “Opu” di depan namanya. Terkadang ada juga lidah-lidah jahil yang menambah-nambahi gelar kebanggaan ningrat di daerah kami ini menjadi “Opundok” yang artinya : Si monyet.

Kita kembali ke Opu yang satu ini. Baiklah, untuk mempermudah penceritaan ini, kita namai saja dia dengan nama : Opu Ta’garang.

Hidup Opu Ta’garang sekarang ini terbilang enak. Punya beberapa bidang tanah produktif berisi cengkeh dan kelapa. Dan yang istimewa adalah, setiap bulan ia menerima gaji sebagai bekas laskar pejuang yang kita istilahkan dengan : tunjangan veteran!

Kalau ditanyakan, apa ia memang turut berjuang membela RI di masa lalu, orang-orang cuma mencibir. Pejuang apaan, kata mereka. Ia malah lebih cocok dibilang sebagai kaki-tangan Nippon ketimbang pejuang. Syahdan, Opu Ta’garang inilah yang sering melapor ke Tuan Guntjo Sodai di Benteng bahwa Si Anu menyimpan beras. Aturan yang berlaku saat itu adalah orang pribumi tidak boleh makan nasi, walaupun beras itu didapat dari padi yang ditanam di tanah sendiri. Gara-gara mulut ember Opu Ta’garang ini, banyak orang yang diseret ke Benteng, diinterogasi dan dipukuli Nippon.

Apa yang ia punyai barangkali adalah, kemampuan bersilat lidah, sehingga ia tidak ikut disembelih dengan Nippon saat tentara republik datang. Boleh jadi pula kepahlawanannya itu karena salah penyelidikan. Memang tidak jarang karena salah penyelidikan, banyak kini bekas garong yang kita anggap sebagai bekas pejuang.

Atau apa karena ia seorang opu? Tapi Bukankan negeri ini dari dulu-dulu hingga sekarang, bisa jadi gawat karena para raja dan pemimpinnya yang duluan gawat. Kita bisa dijajah Belanda karena para raja terlalu gampang diadu domba dengan raja-raja lain setelah diberi sekantung emas atau dirayu-rayu dengan kekuasaan. Bukankah bukan cerita baru lagi jika para raja sering menghianati kepentingan rakyatnya dan balik menjilat-jilat kaki kolonial. Dan sekarang mereka menjelma menjadi para pemimpin yang menjilat-jilat (maaf) pantat kapitalis demi insentif, bantuan modal atau apa pun itu namanya?

Negara ini dibangun bukan hanya dengan mengorbankan darah para pemimpin tinggi dan para ningrat yang kemudian kita abadikan pada jalan dan gedung Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin dan sultan baabullah karena, dengan tentunya tidak mengecilkan arti perjuangan para pemimpin ini, tak bisa kita pungkiri pula bahwa nama-nama mereka disanggah dan dibesarkan oleh para prajurit, para pahlawan dan rakyat jelata yang menjadi tameng musuh di garis depan, yang tidak kita ketahui siapa nama dan di mana mereka dikuburkan. Kita tidak kesalkan itu karena Pahlawan sejati tentunya hanya ada dalam catatan sejarah milik Yang maha Mengadili, yang bisa jadi akan dipajang pada jalan yang terpanjang dan terlebar kelak nanti di kota syurga. Kita cuma berusaha mengingat kembali bahwa betapa banyak pahlawan yang tidak terekam oleh sejarah manusia.

Tetapi cerita tentang Opu Ta’garang bukan cerita tentang kepahlawanan, heroism, dan semacamnya tetapi cerita tentang penghianat yang diberi bintang jasa. Cerita yang masih berlanjut hingga sekarang. Jika penghianat di zaman kumpeni dan pendudukan Nippon adalah kaki tangan kolonial, maka sekarang- di zaman nekolim (neokolonialisme), meminjam istilah Bung karno, para penghianat negeri ini tak bisa lagi dikotak-kotakkan sebagai ningrat atau rakyat jelata. Mereka bisa saja ningrat (pemerintah) atau rakyat jelata (swasta) yang tega mengorbankan kepentingan rakyat banyak demi kepantingan pribadi dan kroninya.

Opu Ta’garang duduk bersila. Ia keluarkan kotak tembakaunya. Sejumput tembakau diisi pada kertas rokok, dipilin dengan telapak tangan dan diselip di sela bibir. Berputar-putar rokok pilinan itu oleh permainan bibir dan lidahnya, dilem dengan ludah. Ujungnya disulut dengan lidah api dan menggumpal-gumpal asapnya.

Duduk dia dikelilingi anak-anak kecil. Apa yang ia ingin ceritakan kali ini, sama saja dengan kemarin. Dan kemarinnya kemarin. Tentang petantang-petentenganya di masa muda, di mana dia selalu menjadi jagoan dan heronya. Kenakalannya pada perempuan. Ilmu pelet. Menggertak orang sampai terkencing-kencing.

Sesekali memelintir kumis. Sesekali menepuk dada. Bicara masalah keberanian, tak ada satu pun yang dia takuti. Bicara masalah penderitaan, tak ada seorang pun yang lebih tersiksa dari dia. Masalah kenakalan, Uh.. kenakalan anak muda zaman sekarang tak ada setahi kuku pun jika dibandingkan dengan kebejatannya. Anehnya, jika bicara masalah kesucian jiwa, ia juga terbilang “hebat”, punya pengalaman spiritual didatangi malaekat jibril, bahkan masih sering bermimpi ketemu Nabi Muhammad. Dan pada akhirnya ia menyudahi dengan kata-kata : Jangan ditiru segala bejat yang kulakukan, tapi turuti “kata Tuhan” yang kukatakan.

Sayangnya manusia lebih tertarik untuk meniru daripada mendengarkan. Bukankah manusia lebih mudah belajar hal-hal yang praktis, yakni kenyataan yang nampak oleh dua biji matanya sendiri?

Maka berkoar-koarlah saja dengan segala macam aturan akhlak, moral, etika dan hukum di atas mimbar tetapi sepanjang ”Opu Ta’garang muda”, yakni para “orang tua- guru- pemimpin” masih saja korupsi, maka anak-anak mereka , murid-murid mereka, dan abdi-abdi mereka akan sami’na wa’ato’na, bahkan bisa berbuat lebih. Insya Allah mereka juga bisa berkata seindah mungkin tetapi berbuat sebejat mungkin.

Masukkan pula pelajaran moral tentang menjadi umat beragama dan warga Negara yang baik dalam kurikulum, tetapi sepanjang para “orang tua- guru- pemimpin” ini tetap bakhil, bermaksiat, dan durhaka maka saksikanlah apa yang terjadi dan kutukilah dirimu sebisa-bisanya jika kau memang masih punya akal sehat .

Dan kita lihat kenyataan maka kita tidak heran jika ada anak SMP berbuat mesum karena bahkan pejabat terhormat yang mestinya memberi contoh yang baik bagi masyarakat, pun ternyata kedapatan mesum. Jika para pelajar kita gemar tawuran karena yang mereka saksikan adalah tawuran di mana-mana, entah antara aparat dengan aparat atau pun antara aparat dengan rakyat biasa. Jika anak-anak muda kita mengelompokkan diri dalam geng-geng yang kerap membuat onar karena para pemimpin kita saja kerap mengidentikkan diri dengan geng partai masing-masing lalu gontok-gontokan di sana-sini, tanpa bisa meneladankan sikap bersatu dalam perbedaan, atau mengalah demi kepentingan orang banyak.

Tapi mudah-mudahan ini spekulasiku yang sama sekali tidak ilmiah atau tidak leih dari sebuah mimpi buruk saja. Karena yang kuharapkan adalah, Kuhajangan sampai ada Opu Ta’garang Muda di antara kita.

Senin, 13 April 2009

Keping-keping Sejarah Selayar


Tulisan ini beranjak dari ketertarikan penulis akan sejarah, khususnya sejarah Daerah Selayar, tempat dimana penulis dilahirkan dan dibesarkan. Walaupun disiplin ilmu penulis bukan sejarah, tetapi menyadari bahwa sejarah merupakan bagian dari jati diri kita, maka melalui media ini, penulis ingin membuka semacam diskusi dan tukar pendapat dengan semua kalangan mengenai Sejarah Selayar.

Tulisan ini diberi judul keping-keping sejarah selayar karena sampai saat ini, penulis belum bisa mendapatkan referensi yang lengkap mengenai perjalanan Selayar mengarungi arus sejarah dari masa ke masa, sehingga penulis bersandar sepenuhnya dari data-data yang penulis kumpulkan dari beberapa buku, artikel di dunia maya, serta cerita dari para orang tua, hingga tentunya tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan siapa saja yang bergabung dalam komunitas ini agar memberi kritik dan melengkapi apa yang telah penulis paparkan, sehingga keping-keping sejarah Selayar yang entah di mana berada dapat kita padukan dengan utuh, karena dari kepingan demi kepingan itulah kita bisa melihat lebih jelas gambaran "masa lalu" kita, di mana kita berada kini dan ke mana kita akan melangkah membawa Selayar untuk menggapai hari esok yang lebih baik.

Selayar Purba

Sejak kapan manusia menghuni Pulau Selayar, penulis belum banyak tahu. Waterson Roxana, ketika meresensi buku berjudul The Green Gold-Economic History of the Indonesian Coconut Island Selayar karangan Christiaan Heersink pun mengakui bahwa belum pernah dilakukan studi historis yang intensif terhadap Pulau Selayar. Pada tahun 1932, seorang ilmuan Belanda bernama A.A Cense pernah melakukan peninjauan ke kampung-kampung pesisir barat Selayar dari utara ke Selatan, namun sampai saat ini penulis belum tahu apakah ia pernah melakukan ekskavasi di Selayar seperti yang ia lakukan di Ara pada tahun 1933, atau tidak. Ara adalah sebuah tempat di daratan Sulawesi Selatan yang berhadapan dengan Pulau Selayar. Selanjutnya, seperti apa dokumentasi yang ia terbitkan penulis juga belum tahu. Untuk hal ini, sekali lagi kita sangat memerlukan bantuan dari para sejarahwan dan orang-orang yang memiliki dokumentasi tentang itu.

Pada tahun 2004 ditemukan fragmen-fragmen tulang manusia di Leang Batu Tunpa yang berada di sebelah selatan pulau Selayar. Namun setelah diteliti dengan alat Accelerator Mass Spectrometry (AMS) oleh tim peneliti Australia-Indonesia Institute, disimpulkan bahwa fragmen-fragmen tulang manusia yang menunjukkan ciri mongoloid tersebut bukan tulang manusia purba melainkan manusia yang menghuni pulau ini pada era pelayaran sekitar abad 17 M.

Maka untuk sementara, barangkali ada gunanya jika dipaparkan beberapa hasil penggalian yang dilakukan para arkeolog dan sejarahwan di daratan Sulawesi Selatan dengan asumsi bahwa, jika memang pada zaman es Kepulauan Selayar menyatu dengan Daratan Sulawesi Selatan, dan sekiranya manusia-manusia purba di daratan Sulawesi Selatan sempat "menyeberang" ke Selayar, maka nenek moyang orang Selayar mungkin berasal dari manusia-manusia yang menghuni Leang Cadang, Bola Batu, Leang Karassa, atau Leang Batu Ejaya di daratan Sulawesi Selatan.

Adapun hasil pengidentifikasian tempat tinggal manusia purba beserta kurun waktu hidupnya di Sulawesi Selatan antara lain:

  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan. Masa berburu dan mengumpulkan makanan terjadi pada sekitar tahun 200.000 sampai dengan 10.000 SM. Saat itu manusia yang menghuni daratan Sulawesi Selatan menetap di Gua Cabbenge dan hidup dengan berburu binatang, menggunakan alat dari batu seperti kapak perimbas dan alat serpih dari tulang.
  2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM). Pada masa ini populasi manusia purba menyebar ke beberapa tempat seperti di Soppeng (Leang Cadang), Toala, Bone dan Bantaeng (Leang Batu Ejaya). Alat yang mereka gunakan adalah alat serpih dari batu dan tulang.
  3. Masa bercocok tanam. Alat yang digunakan pada masa ini antara lain mata panah, beliung persegi dan kapak lonjong.

Seperti apakah gambaran manusia-manusia purba itu?

Dari hasil penggalian di Toala sendiri, D.A. Hooijer sendiri mengklasifikasikan manusia Toala ke dalam Homo Sapiens L. Hasil penyelidikan di Bola Batu, Leang Karassa dan Leang Cadang menggambarkan bahwa tubuh mereka kelihatannya tidak besar dan gigi mereka kecil-kecil. Kira-kira 2.700 buah gigi lepas yang berasal dari Leang Cadang mewakili populasi pada daerah tersebut dengan jumlah sekurang-kurangnya 267 orang. Populasi manusia purba di Sulawesi Selatan menurut mereka memiliki ciri yang berbeda dengan populasi di Jawa dan Sumatera yang kebanyakan memiliki ciri Austromelanesoid. Manusia purba Sulawesi Selatan sendiri memperlihatkan ciri Mongoloid yang ditunjukkan dengan gigi seri dan taring yang berbentuk tembilang. Sebagian besar gigi atasnya menimpa tepat gigi bawah pada gigitan. Mereka juga memperlihatkan gejala penyakit gigi.

Sementara hewan-hewan yang hidup pada masa itu, antara lain:

  1. Marsupialia (salah satu sub kelas hewan menyusui) - Phalanger urnisus temminck - Phalanger Celebensis gray - Phalanger celebensis callenfelsi
  2. Insectivora (hewan pemakan serangga) Suncus murinus L
  3. Primata (monyet) Macaca Maura Geoffr.et.F. Cuv
  4. Rodentia (hewan pengerat) - Lenomys meyeri jetinK - Rattus dominator Thomas - Rattus sp. Ef. Zanthurus Gray - Rattus sp. Cf. rattus L - Rattus sp.cf. Coelestis Thomas
  5. Carnivora (pemakan daging) Macrogalidia musschenbroekii meridionalis
  6. Artiodactyla (hewan menyusu berkuku genap) - Sus Celebensis Muller et Schlegel - Sus Celebensis Sarasinorum - Babyroussa babyroussa bolabatuensis - Anoa depressicornis Smith
  7. Archidiscorden Celebensis (jenis gajah katai putih)
  8. Stegodon Sompoensis (jenis gajah)
  9. Celebochoerus Heekereni (jenis Babi rusa)
  10. Ikan hiu
  11. Buaya.

Nah, apakah hewan-hewan ini yang diburu dan dimakan oleh nenek moyang kita?

Selayar Dan Luwuk dalam buku La Galigo

Disebutkan bahwa kerajaan-kerajaan awal yang berdiri di daratan Sulawesi Selatan antara lain, kerajaan Luwuk, Wewang Nriwuk dan Tompoktikka. Kerajaan Wewang Nriwuk dan Tompoktikka sendiri masih kontroversial keberadaannya. Kerajaan Luwuk berkembang menjadi ketua komuniti Bugis dengan wilayah meliputi Tana Ugi, sepanjang sungai Walenae, tanah pertanian timur, pesisir pantai Teluk Bone, semenanjung Bira, Pulau Selayar dan Tanjung Bantaeng. Ini terjadi pada sekitar abad 12. Jadi pada abad itu, Selayar berada di bawah pengaruh Luwuk.

Boleh jadi gelar Opu dan Andi yang banyak terdapat pada nama orang-orang Selayar merupakan warisan dari Luwuk.

Bagaimana Luwuk masuk ke Selayar?

Dikisahkan bahwa dalam perjalanannya dari Cina menuju Luwuk, Sawerigading (lidah orang Selayar menyebut "Seheregading") bersama istrinya, I We Cuddai dan tiga orang puteranya, La Galigo, Tenri Dio dan Tenri Balobo singgah di pulau Selayar dan langsung menuju sebuah tempat bernama Puta Bangung dengan membawa sebuah nekara perunggu yang besar. Mereka lantas dianggap sebagai tomanurung (semacam keturunan dewa). Selanjutnya Tenri Dio diangkat menjadi raja Putabangung, sementara nekara yang mereka bawa masih tersimpan di Matalalang dan menjadi salah satu obyek wisata di Kabupaten Kepulauan Selayar. Masa ini dikenal dengan istilah Periode Galigo, yaitu periode kekuasaan manusia dewa yang mengatur tata tertib dunia dengan kepemimpinan religius kharismatik. Periode Galigo diperkirakan berlangsung sekitar abad 7 sampai abad ke 10 M, tetapi menurut Christian Pelras, periode ini terjadi pada sekitar abad 12.

Selayar di Era Pelayaran

Di masa lalu, Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Moluccan (Maluku). Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar. Dari aktivitas pelayaran ini pula muncul nama Selayar. Nama Selayar berasal dari kata "cedaya" (Bahasa Sansekerta) yang berarti, satu layar, karena konon banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini. Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara, Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti bahwa armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah di pulau ini.

Selain nama Selayar, pulau ini dinamakan pula dengan nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdoa. Di masa lalu, Pulau Selayar menjadi tempat berdoa bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur untuk keselamatan pelayaran mereka. Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa (abad 17), Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit baik untuk pelayaran menuju ke timur dan ke barat. Disebutkan dalam naskah itu bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.

Selayar dan Kerajaan lain di daratan Sulawesi Selatan

Pada suatu ketika Raja Angangnionjo Tomaburu Limanna (Bone), ketika berkunjung ke Somba Opu bertemu dengan Opu Tanete (Selayar) yang datang menghadap raja Makassar untuk melaporkan bahwa ia membawa peti mayat yang berisi mayat jenasah putera Raja Luwuk bernama LasoE, yang mati akibat perahunya karam di Selayar. Raja Angangnionjo sendiri adalah pengganti raja Daeng Sinjai. Beliau memerintah Bone dari tahun 1597-1603. Sehubungan dengan itu, raja Makassar kemudian meminta kesediaan raja Angangnionjo untuk menemani Opu Tanete mengantarkan peti jenazah itu.

Dalam merancang pengusungan jenazah ini dicapai kesepakatan bahwa iring-iringan itu adalah irinmg-iringan kerajaan Tanete meskipun dikawal oleh Opu Tanete dan Raja Angangnionjo. Rasa persaudaraan kemudian timbul di antara keduanya dan atas persetujuan Raja Gowa, sekembali dari Luwuk mereka berikrar membentuk persekutuan dan persaudaraan yang isi pokoknya; Jika rakyat Angangnionjo bepergian ke Tanete (Selayar) maka dia menjadi orang Tanete, demikian sebaliknya. Dan jika armada Raja Angangniuonjo berada di perairan Tanete (Selayar), mereka wajib singgah walaupun tergesa-gesa, demikian pula sebaliknya.

Sejak saat itu, Kerajaan Angangnionjo diubah namanya menjadi Kerajaan Tanete. (Hal ini masih membingungkan penulis. Apa ini ada pula hubungannya dengan daerah Tanete yang ada di Bulukumba?)

Selayar Dan Buton

Di awal tahun 1500-an, ada raja dari Selayar bernama Opu Manjawari yang membantu Raja Mulae (Raja Buton V) mengusir kelompok bajak laut pimpinan La Bolontio yang saat itu menguasai Sulawesi bagian timur sampai Kepulauan Moro Filipina. Turut dalam pengusiran ini Lakilaponto, yang karena jasa-jasanya berhasil mengusir La Bolontio kemudian diangkat menjadi Sultan Buton I dengan gelar Sultan Muhrum atau Sultan Kaimuddin. Opu Manjawari sendiri diangkat menjadi Sapati pada tahun 1526. Demi mempererat persahabatan mereka, Opu Manjawari kemudian menikahkan Lakilaponto dengan salah satu puterinya. Cucu Opu Manjawari dari Lakilaponto Sultan Muhrum bernama La Sangaji di kemudian hari diangkat menjadi Sultan Kaimuddin III. Anak perempuan Opu yang lain bernama Banaka menikah dengan Raja Batauga. Lakilaponto juga menikahi anak raja Jampea dan memiliki anak bernama La Tumparassi yang kemudian diangkat menjadi Sultan Kaimuddin II.

Selayar dan Perdagangan

Christiaan Heersink menggambarkan bahwa komoditas perekonomian di Selayar pada abad 17, agak kurang diperhatikan. Namun marjinalisasi ini tidak serta mendatangkan ketidakberuntungan karena hal ini justru memungkinkan penduduk Selayar memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam merespon perubahan kondisi ekonomi. Kondisi tanah yang pada mulanya dianggap kurang cocok untuk berbagai komoditas pertanian, membuat orientasi terhadap perdagangan maritim menjadi pilihan utama bagi para penduduk. Ini sudah terjadi bahkan jauh hari sebelum pemerintah kolonial menduduki tanah ini. Namun ini juga bukan berarti bahwa Selayar tidak pernah memfokuskan dirinya pada industri pertanian. Pada abad 17 Selayar pernah menjadi pengekspor tekstil ke daerah-daerah kepulauan lainnya. Di abad 19, ketika pasaran tekstil mengalami penurunan akibat kalah bersaing dengan tekstil barat, Selayar beralih menjadi pengekspor kelapa dan teripang. Pada saat itu kelapa memang menjadi komoditas primadona dunia, sehingga pada tahun 1850-an, kapal-kapal orang Selayar telah berlayar ke Irian, Serawak dan Singapura. Pada tahun 1860-an, pemerintah Belanda pernah memperkenalkan tanaman kapas, kapuk, dan kopi yang terbukti gagal berkembang, akibat sedikitnya populasi penduduk yang bisa dipekerjakan untuk komoditas ini. Ketergantungan pada pertanian kelapa ini pula yang di kemudian hari menyebabkan perekonomian selayar mengalami kesulitan ketika terjadi krisis harga kelapa dunia di awal abad 20. "Emas hijau" yang dulunya menjadi primadona ini tak bisa diandalkan lagi bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk sekedar memenuhi tuntutan perut, banyak penduduk yang konon menyelundupkan tekstil ke daratan Sulawesi, bahkan terjadi migrasi penduduk secara besar-besaran dari Selayar ke daerah seberang. Ikut dalam migrasi itu adalah para tukang pasang gigi emas yang dulunya bisa mendapat untung banyak karena banyak orderan.

Bagaimana dengan para penduduk yang bertahan di Selayar sendiri? Kakek-nenek penulis sendiri bercerita bahwa pada masa itu terjadi paceklik. Orang Selayar yang tidak mampu membeli beras harus bertahan dengan menyantap ubi gadung dan biji mangga yang dicincang kemudian dikukus. Jika pengolahannya kurang sempurna, ubi gadung ini bisa membuat mabok. Sementara itu mereka yang merantau ke seberang, bekerja di perusahaan-perusahaan pengolahan kayu sebagai tukang gergaji dan sebagainya. Konon ada juga yang bekerja sebagai pedagang dan pelayan di hotel-hotel.

Selayar Pada Masa Pemerintah Kolonial Belanda

Belanda mulai memerintah Selayar pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana residen pertamanya adalah W. Coutsier (menjabat dari 1739-1743). Berturut-turut kemudian Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen seperti Asisten Resident, Gesagherbber, WD Resident, atau Controleur. Barulah Kepala pemerintahan ke 88 dijabat oleh orang Selayar, yakni Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Saat itu telah masuk penjajahan Jepang sehingga jabatan residen telah berganti menjadi Guntjo Sodai, pada tahun 1942. Di zaman Kolonial Belanda, jabatan pemerintahan di bawah keresidenan adalah Reganschappen. Reganschappen saat itu adalah wilayah setingkat kecamatan yang dikepalai oleh pribumi bergelar "Opu". Dan kalau memang demikian, maka setidak-tidaknya ada sepuluh Reganschappen di Selayar kala itu, antara lain: Reganschappen Gantarang, Reganschappen Tanete, Reganschappen Buki, Reganschappen Laiyolo, Reganschappen Barang-Barang dan Reganschappen Bontobangung. Di bawah Regaschappen ada kepala pemerintahan dengan gelar Opu Lolo, Balegau dan Gallarang.

Selayar Pada masa Penjajahan Jepang

Di masa pendudukan Jepang, keresidenan diganti dengan istilah Guntjo Sodai dan Buken Kanriken. Masa penjajahan yang cuma berlangsung kurang lebih tiga setengah tahun hanya mengalami pergantian kepala pemerintahan sebanyak dua kali.

Bagaimana keadaan masyarakat Selayar pada masa penjajahan Jepang?

Kakek-nenek kembali angkat cerita bahwa Nippon pernah menyuruh mereka menanam jarak. Mereka juga dilarang makan nasi, walaupun mereka sendiri yang menanam padinya. Kalau mau makan nasi, harus pintar-pintar menyembunyikan padi. Karena jika ketahuan, maka habislah badan dirajah dengan cambuk atau pentungan. Selain itu, mereka juga dilarang menyalakan lampu di malam hari. Konon untuk menghindar dari intaian pesawat-pesawat Sekutu.

Penulis belum tahu benar tidaknya kejadian tersebut. Bangsa kate itu juga sempat mengajari mereka ber-taiso, ber-seinendam, dan bernyanyi. Nyanyian mereka berisi propaganda untuk membenci Sekutu, misalnya dengan lirik: Bangsa Inggris dan Amerika Musuh seluruh Asia